Impairment: Cara Hitung, Contoh & Bedanya dengan Depresiasi

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Keuangan

02 December 2025
Bagikan :
image detail artikel

Impairment adalah kondisi ketika nilai tercatat (nilai buku) suatu aset dalam neraca perusahaan lebih dari nilai terpulihkan (nilai ekonomis) aset tersebut.

Dalam akuntansi, konsep impairment harus dipahami karena memiliki peranan penting untuk mempertahankan laporan keuangan perusahaan agar tetap akurat.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai impairment? Mari simak penjelasannya dalam artikel di bawah ini.

Pengertian Impairment

Impairment adalah perbandingan antara harga beli aset di masa lalu (historical cost) dengan harga pasar saat ini (fair value). Istilah ini muncul ketika nilai aset dianggap menurun.

Impairment dapat diartikan sebagai penurunan nilai aset secara permanen dan harus dicatat dalam laporan keuangan agar menunjukkan kondisi yang sesungguhnya.

Saat fair value suatu aset sangat rendah dibandingkan dengan nilai buku secara permanen, perusahaan perlu membukukannya dalam neraca sesuai kondisi terkini.

Impairment bisa terjadi pada aset berwujud maupun tidak berwujud, seperti mesin produksi, pabrik, merek dagang, hingga hak cipta.

Aset yang mengalami impairment dikenal dengan sebutan impairment assets. Namun, ada pula beberapa aset pengecualian atau yang tidak bisa mengalami impairment, antara lain:

  • Aset tetap yang dimiliki untuk dijual.
  • Persediaan.
  • Aset dari kontrak asuransi.
  • Pajak tangguhan.
  • Aset yang muncul menurut imbalan kerja.
  • Aset keuangan.
  • Properti investasi pada fair value (nilai wajar).
  • Aset biologis berupa hewan atau tanaman.


Terjadinya impairment assets karena dipicu oleh beberapa faktor tertentu, di antaranya:

  • Adanya kerusakan fisik pada aset.
  • Material aset mengalami perubahan secara permanen hingga memengaruhi nilainya.
  • Kemerosotan dalam hal permintaan konsumen. Alhasil, nilai aset pun turun secara signifikan.
  • Pelepasan aset sebelum tanggal perkiraan sesuai ketentuan.


Perbedaan Impairment dan Depresiasi

Ketika membahas tentang impairment, maka tidak akan lepas kaitannya dengan depresiasi. Kedua istilah ini sering kali dinilai sama, padahal sebenarnya cukup berbeda..

Impairment adalah penurunan nilai aset secara signifikan dan tidak dapat dipulihkan kembali sedangkan depresiasi merupakan proses distribusi biaya perolehan aset selama masa manfaatnya.

Impairment mengindikasikan nilai aset berkurang secara bertahap setiap tahun. Jadi, depresiasi termasuk bagian dari perencanaan yang bisa diproyeksikan sejak awal pembelian.

Kendati demikian, hal tersebut tidak sama dengan impairment yang terjadi secara tidak terduga. Terlebih karena penurunan nilai aset ini bersifat permanen.

Pada impairment, catatan berbentuk loss (kerugian) di dalam laporan keuangan. Sementara itu, depresiasi dicatat sebagai beban yang akan menurunkan harga perolehan suatu aset.

Depresiasi bisa terjadi pada segala jenis aset yang dimiliki perusahaan. Umumnya, perhitungan depresiasi dilakukan dengan sejumlah metode, seperti garis lurus hingga saldo menurun.

Baca juga: Pentingnya Manajemen Investasi untuk Aset Kamu

Cara Menghitung Impairment

Secara umum, perhitungan terhadap impairment melibatkan beberapa langkah yang penting, antara lain:

  • Menentukan nilai tercatat aset dalam laporan keuangan.
  • Menentukan nilai yang bisa didapatkan kembali, berupa nilai pasar aset atau value in use (nilai pakai) dari aset.


Nilai pakai didapat dari perkiraan aliran cash flow dan diharapkan bisa dihasilkan oleh aset. Dari kalkulasi ini, diketahui hasil impairment untuk menyimpulkan apakah nilai aset turun.

Apabila nilai yang bisa didapatkan kembali hasilnya lebih rendah dibandingkan nilai tercatat, maka selisih keduanya merupakan jumlah impairment sebagai beban.

Kamu pun memerlukan informasi mengenai beberapa rumus yang digunakan, yaitu:

  • Besaran Depresiasi per Tahun = Harga Pembelian Barang / Nilai Ekonomis
  • Nilai Sisa Buku = Harga Pembelian Barang - (Jangka Waktu Depresiasi x Nilai Depresiasi Barang)
  • Impairment = Nilai Pakai - Nilai Sisa Buku


Agar pemahaman terkait cara menghitung impairment lebih jelas, cobalah perhatikan contoh kasus berikut ini.

Contoh:

PT XYZ memiliki satu mesin yang dibeli pada 2017 dengan harga Rp150.000.000. Diperkirakan, aset ini bernilai ekonomis hingga 15 tahun.

Tetapi, PT XYZ juga memprediksi terjadinya penurunan nilai atas mesin tersebut setelah 6 tahun, yaitu pada 2022. Dalam hal ini, nilai pakai mesin ini diperkirakan sekitar Rp50.000.000.

Lantas, berapakah impairment atas aset tersebut?

Jawab:

Besaran Depresiasi per Tahun = Harga Pembelian Barang / Nilai Ekonomis
= Rp150.000.000 / 15
= Rp10.000.000

Berarti, nilai depresiasi mesin milik PT XYZ tersebut adalah sebesar Rp10.000.000 per tahun.

Nilai Sisa Buku = Harga Pembelian Barang - (Jangka Waktu Barang x Nilai Depresiasi Barang)
= Rp150.000.000 - (6 x Rp10.000.000)
= Rp70.000.000

Impairment = Nilai Pakai - Nilai Sisa Buku
= Rp50.000.000 - Rp70.000.000
= - Rp20.000.000

Jika dibandingkan antara nilai sisa buku mesin (Rp70.000.000) dengan nilai pakai (Rp50.000.000), ada selisih besar di antara keduanya.

Dalam hal ini, posisi nilai pakai lebih kecil. Maka, dapat memperlihatkan bahwa perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp20.000.000 akibat impairment.

Baca juga: Amortisasi: Pahami Pengertian, Metode, & Cara Menghitungnya

Contoh Impairment

Contoh impairment aset cukup mudah ditemukan, termasuk dalam hal properti, investasi yang nilainya menurun signifikan, maupun mesin.

Misalnya, perusahaan teknologi yang mempunyai hak cipta, namun nilai komersial aset ini menurun sebab munculnya teknologi baru lebih modern dan canggih.

Contoh lainnya, yaitu suatu pabrik yang terbakar dan rusak parah sehingga harus dinilai ulang. Jika nilai tercatatnya lebih tinggi dibandingkan nilai pasar setelah tragedi ini, artinya impairment.

Dalam kondisi tersebut, nilai tercatat paten harus disesuaikan dengan nilai pasar yang lebih rendah. Nah, penyesuaian inilah yang dianggap sebagai impairment.

Secara ringkas, dapat dipahami bahwa impairment adalah refleksi dari situasi riil aset suatu perusahaan. Memahaminya tidak hanya penting untuk pelaporan keuangan yang akurat. Tetapi, juga berimbas signifikan terhadap aktivitas operasional dan kontinuitas usaha.

Nah, jika kamu memang sedang mencari pembiayaan, pertimbangkan untuk mengajukan Pinjaman Usaha di Pegadaian. Produk pendanaan ini cocok untuk usaha individu maupun badan usaha.

Kamu hanya perlu menjaminkan BPKB kendaraan sebagai salah satu syaratnya. Kendati demikian, kendaraan yang dimiliki tetap bisa digunakan.

Pinjaman Usaha dapat diproses di kantor cabang Pegadaian terdekat secara langsung. Nilai cicilannya bersifat tetap per bulan.

Dana pinjaman akan diterima setelah proses verifikasi, survei, dan persetujuan keperluan kredit selesai. Nasabah bisa melunasinya menggunakan berbagai fitur pembayaran yang telah disediakan sesuai kebutuhan.

Tunggu apa lagi? Yuk, dapatkan dana cepat untuk kebutuhan usaha melalui Pinjaman Usaha di Pegadaian sekarang!

Baca juga: Contoh Laporan Keuangan Akuntansi Berdasarkan Jenis-Jenisnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Sahabat Pegadaian. All Rights Reserved