Mengenal Cut Loss: Strategi dan Waktu Ideal Melakukannya

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Investasi

04 February 2026
Bagikan :
image detail artikel

Dalam dunia investasi saham, satu kesalahan kecil dapat berujung pada kerugian besar jika tidak segera ditangani. Di sinilah cut loss menjadi strategi penting yang wajib dipahami setiap investor.

Tanpa cut loss, keputusan emosional sering kali justru memperburuk kondisi portofolio saham. Agar kamu tidak terjebak pada kerugian yang semakin dalam, simak pembahasan lengkap mengenai konsep tersebut dalam artikel ini sampai akhir.

Apa Itu Cut Loss?

Cut loss adalah tindakan menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga beli ketika kerugian telah mencapai batas tertentu yang telah ditentukan sebelumnya.

Strategi ini dilakukan untuk mencegah kerugian yang lebih besar jika harga saham terus mengalami penurunan.

Dengan kata lain, menjual saham dengan harga lebih rendah dari harga belinya bukanlah bentuk kegagalan dalam berinvestasi, melainkan langkah pengendalian risiko.

Walaupun investor tetap mengalami kerugian, kerugian tersebut masih berada dalam batas yang terkendali sehingga modal dapat dialihkan ke peluang investasi lain yang lebih potensial.

Dalam praktiknya, cut loss sering disebut sebagai strategi perlindungan modal karena membantu investor tetap bertahan di tengah fluktuasi pasar yang tidak menentu.

Mengapa Penting Melakukan Cut Loss?

Menjual saham dengan harga lebih rendah dari harga belinya memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan portofolio investasi saham. Beberapa alasan utama mengapa strategi penjualan saham ini penting antara lain:

  • Melindungi modal investasi: Kerugian yang dibatasi sejak awal memungkinkan kamu tetap memiliki dana untuk peluang lain.
  • Mengurangi tekanan emosional: Menahan saham yang terus turun sering kali menimbulkan stres dan keputusan impulsif.
  • Menjaga disiplin investasi: Dengan menjual saham dapat membantu kamu tetap berpegang pada rencana yang telah dibuat.
  • Menghindari jebakan harapan semu: Tidak semua saham akan kembali naik, terutama jika fundamental perusahaan memburuk.


Perbedaan Stop Loss dan Cut Loss

Dalam praktik investasi dan trading saham, stop loss dan cut loss sering dianggap sama karena sama-sama bertujuan membatasi kerugian.

Padahal, keduanya memiliki cara kerja dan karakteristik yang berbeda. Memahami perbedaannya akan membantu kamu menentukan strategi pengelolaan risiko yang lebih tepat.

Berikut perbedaan stop loss dan cut loss yang perlu kamu pahami:

1. Berdasarkan Sistem Eksekusi

Stop loss dijalankan secara otomatis oleh sistem trading. Ketika harga saham menyentuh level yang telah ditentukan sebelumnya, sistem akan langsung mengeksekusi order jual tanpa campur tangan investor.

Sebaliknya, cut loss dilakukan secara manual. Keputusan menjual saham diambil langsung oleh kamu setelah menyadari bahwa pergerakan harga tidak lagi sesuai dengan rencana atau prediksi awal.

2. Berdasarkan Waktu Pelaksanaan

Stop loss akan dieksekusi tepat pada saat harga menyentuh batas yang telah dipasang. Tidak ada penundaan karena semuanya berjalan otomatis.

Sementara itu, cut loss bisa dilakukan kapan saja, tergantung pada hasil analisis terbaru yang kamu lakukan terhadap pergerakan harga, kondisi pasar, maupun fundamental perusahaan.

3. Berdasarkan Tingkat Fleksibilitas

Stop loss memiliki tingkat fleksibilitas yang lebih rendah karena levelnya sudah ditetapkan sejak awal. Jika kondisi pasar berubah, level tersebut tidak ikut menyesuaikan kecuali kamu mengubahnya secara manual.

Cut loss justru lebih fleksibel karena keputusan diambil berdasarkan situasi terkini. Kamu dapat menyesuaikan keputusan cut loss dengan perkembangan terbaru yang terjadi di pasar saham.

4. Berdasarkan Peran Emosi dan Disiplin

Stop loss membantu mengurangi pengaruh emosi karena sistem akan menutup posisi secara otomatis tanpa perlu pertimbangan psikologis dari investor.

Cut loss menuntut kedisiplinan yang lebih tinggi, karena kamu harus mampu menahan ego, rasa gengsi, dan harapan berlebihan saat posisi saham berada dalam kondisi rugi.

Baca juga: Mengenal Bursa Efek, Fungsi, Jenis, dan Cara Kerjanya

Kapan Waktu Ideal Melakukan Cut Loss?

Sebelum menentukan waktu cut loss, kamu perlu memahami bahwa tidak ada satu standar yang berlaku untuk semua investor. Waktu cut loss sangat dipengaruhi oleh profil risiko, strategi investasi, serta kondisi pasar.

Meski demikian, terdapat beberapa kondisi umum yang dapat dijadikan acuan agar keputusan tersebut tidak dilakukan secara emosional. Adapun waktu idealnya sebagai berikut:

1. Kerugian Telah Mencapai Batas yang Ditentukan

Banyak investor bertanya, kira-kira cut loss saham yang ideal berapa persen? Jawabannya bergantung pada profil risiko. Investor konservatif umumnya menetapkan batas 3%-5%, sedangkan investor agresif bisa mencapai 10%-20%.

Jika harga saham telah menyentuh batas tersebut, cut loss sebaiknya langsung dilakukan agar kerugian tidak berkembang lebih besar.

2. Harga Saham Terus Menurun Tanpa Sinyal Pembalikan

Apabila harga saham terus turun secara konsisten dan tidak menunjukkan tanda pembalikan tren, mempertahankan saham justru meningkatkan risiko kerugian. Dalam kondisi ini, menjual saham menjadi langkah rasional untuk menjaga modal.

3. Terjadi Perubahan Fundamental yang Negatif

Penurunan pendapatan, lonjakan utang, masalah hukum, hingga indikasi fraud merupakan sinyal bahwa kinerja perusahaan sedang memburuk.

Jika fundamental perusahaan melemah, potensi pemulihan harga saham pun ikut menurun sehingga menjual saham dengan harga rendah dari harga jualnya ini layak dipertimbangkan.

4. Kesalahan dalam Memilih Saham

Kesalahan analisis atau keputusan terburu-buru dapat membuat kamu membeli saham yang tidak sesuai dengan tujuan investasi. Jika setelah dievaluasi saham tersebut tidak lagi memiliki prospek yang baik, menjual saham dengan harga rendah menjadi solusi terbaik.

5. Terjadi Koreksi Pasar atau IHSG

Saat IHSG mengalami koreksi akibat krisis, isu ekonomi, atau faktor geopolitik, saham-saham yang terus melemah dapat dipertimbangkan untuk dilepas, terutama jika koreksi berlangsung secara berkelanjutan.

6. Portofolio Tidak Seimbang

Jika satu saham terlalu mendominasi portofolio dan justru membebani total nilai investasi, menjual saham dengan harga rendah dari harga beli dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan portofolio.

Baca juga: Mengenal Indeks MSCI, Fungsi, Hingga Proses Pemilihan Saham

Strategi Menentukan Cut Loss Saham

Agar cut loss tidak dilakukan berdasarkan emosi, kamu memerlukan strategi yang terukur dan konsisten. Berikut beberapa strategi yang dapat digunakan.

1. Berdasarkan Harga Beli

Kamu menetapkan batas kerugian dari harga beli, misalnya 5% atau 10%. Ketika harga menyentuh batas tersebut, saham langsung dijual. Metode ini sederhana dan cocok bagi investor pemula.

2. Berdasarkan Level Support

Cut loss dilakukan saat harga menembus level support yang telah dianalisis sebelumnya. Selama harga masih berada di atas support, saham masih dapat dipertahankan.

3. Berdasarkan Analisis Fundamental

Menjual saham dengan harga lebih rendah dari harga belinya dapat dilakukan jika perusahaan menunjukkan tanda-tanda penurunan kinerja, seperti:

  • Laba dan arus kas menurun signifikan.
  • Rasio utang meningkat tajam.
  • Prospek bisnis memburuk.
  • Terlibat kasus hukum atau skandal manajemen.
  • Terkena regulasi yang merugikan.


Dalam kondisi tersebut, mempertahankan saham justru berpotensi memperbesar risiko.

4. Memanfaatkan Insight dari Analis Pasar Saham

Dalam praktiknya, menentukan kapan harus menjual saham dengan harga rendah dari harga belinya tidak selalu mudah jika hanya mengandalkan analisis pribadi.

Pergerakan harga saham yang dinamis dan penuh ketidakpastian sering membuat investor ragu mengambil keputusan.

Oleh karena itu, kamu dapat memanfaatkan insight atau rekomendasi dari analis saham yang biasanya tersedia di platform sekuritas atau laporan resmi perusahaan sekuritas.

Rekomendasi tersebut disusun berdasarkan analisis teknikal, fundamental, serta kondisi pasar terkini, sehingga dapat membantu kamu melihat saham dari sudut pandang yang lebih objektif.

Itulah penjelasan mengenai cut loss, mulai dari pengertiannya, pentingnya penerapan, waktu ideal melakukannya, perbedaannya dengan stop loss, hingga strategi menentukannya.

Dalam investasi saham, cut loss bukan sekadar tentang menerima kerugian, melainkan tentang menjaga modal agar tetap siap digunakan untuk peluang berikutnya.

Dengan pendekatan yang tepat, kamu tidak hanya membatasi risiko, tetapi juga membangun disiplin dalam mengambil keputusan investasi.

Pada kondisi tertentu, kamu mungkin membutuhkan dana tambahan tanpa harus menjual saham yang telah kamu miliki. Dalam situasi seperti ini, memanfaatkan saham sebagai jaminan melalui layanan Gadai Efek Pegadaian dapat menjadi pilihan yang lebih strategis.

Melalui Gadai Efek, kamu bisa memperoleh pinjaman dengan jaminan saham dan obligasi tanpa warkat yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, sehingga kepemilikan aset tetap berada di tanganmu.

Proses pengajuan dapat dilakukan secara online melalui Call Center Pegadaian di 1500 569 atau melalui WhatsApp di 0813-8000-4200 dan 0819-4500-8000.

Pegadaian juga menawarkan sewa modal yang terjangkau, jangka waktu fleksibel, serta limit pinjaman mulai dari Rp1 juta hingga Rp5 miliar.

Seluruh layanan ini berizin resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sehingga kamu tidak perlu lagi khawatir soal prosedurnya karena sudah sesuai standar resmi.

Sebelum mengajukan, kamu dapat memanfaatkan fitur Simulasi Gadai Efek untuk mengetahui perkiraan nilai pinjaman yang bisa diperoleh.

Jadi, segera penuhi kebutuhan dana dengan tetap menjaga aset investasi lewat layanan Gadai Efek Pegadaian sekarang!

Baca juga: Mengenal Analisis Fundamental, Fungsi, & Langkah Analitisnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Sahabat Pegadaian. All Rights Reserved