Rebalancing Portofolio: Jenis, Strategi, dan Contohnya

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Investasi

18 May 2026
Bagikan :
image detail artikel

Rebalancing portofolio adalah langkah penting yang perlu kamu lakukan untuk menjaga keseimbangan investasi agar tetap sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko.

Seiring waktu, nilai aset seperti saham, obligasi, atau emas bisa naik dan turun sehingga proporsi awal menjadi berubah.

Maka dari itu, rebalancing portofolio menjadi salah satu cara efektif untuk memastikan investasi tetap berada di jalur yang kamu rencanakan sejak awal.

Sebelum masuk ke penjelasan yang lebih dalam mengenai waktu yang tepat untuk melakukan rebalancing portofolio, mari pahami dulu konsep dasarnya.

Apa Itu Rebalancing Portofolio?

Rebalancing portofolio adalah proses mengembalikan komposisi aset investasi ke alokasi awal yang sudah kamu tentukan.

Tujuannya bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi menjaga keseimbangan antara risiko dan potensi imbal hasil.

Misalnya, kamu memiliki portofolio dengan komposisi 60% saham, 30% obligasi, dan 10% cash. Ketika saham naik tajam, porsinya bisa berubah menjadi 70% dan risiko meningkat.

Di sinilah rebalancing portofolio menjadi solusi untuk mengembalikan proporsi tersebut. Kamu bisa menjual sebagian saham dan mengalihkan dana ke instrumen lain agar kembali seimbang.

Jenis Rebalancing Portofolio

Ada beberapa pendekatan yang bisa kamu gunakan dalam melakukan rebalancing portofolio. Setiap strategi punya cara kerja dan keunggulan masing-masing. Berikut penjelasannya:

1. Calendar Rebalancing

Strategi ini dilakukan berdasarkan waktu tertentu, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan, atau setahun sekali. Cara ini cocok buat kamu yang ingin disiplin tanpa harus terus memantau pasar.

Biasanya investor jangka panjang memilih metode ini karena lebih sederhana dan efisien dari segi waktu.

2. Constant-Mix Rebalancing

Strategi ini fokus pada menjaga persentase aset tetap dalam batas tertentu. Pendekatan ini cocok untuk kamu yang ingin menjaga konsistensi risiko dalam portofolio.

Misalnya, jika toleransi deviasi 5%, maka ketika porsi aset keluar dari batas itu, kamu perlu melakukan penyesuaian.

3. Smart Beta

Metode ini hybrid (pasif-aktif) berbasis aturan dengan mempertimbangkan faktor fundamental seperti kinerja perusahaan dan valuasi. Biasanya digunakan oleh investor saham yang lebih berpengalaman.

Dengan pendekatan ini, kamu bisa mengganti aset yang kurang optimal dengan yang memiliki potensi lebih baik secara sistematis.

Baca juga: Portofolio Investasi: Definisi, Tujuan, dan Cara Membuatnya

Kapan Waktu yang Tepat untuk Rebalancing Portofolio?

Menentukan waktu rebalancing tidak harus menunggu satu momen tertentu. Beberapa kondisi berikut bisa menjadi sinyal untuk melakukan penyesuaian:

1. Tujuan Keuangan Berubah

Ketika target hidup kamu berubah, seperti menikah atau mendekati pensiun, alokasi aset juga perlu disesuaikan agar lebih relevan. Biasanya, semakin dekat dengan tujuan, portofolio akan dibuat lebih konservatif.

2. Fluktuasi Pasar Signifikan

Pergerakan pasar yang drastis bisa membuat komposisi aset berubah jauh dari target awal. Kondisi ini sering terjadi saat pasar saham naik atau turun tajam. Di sinilah rebalancing portofolio menjadi penting untuk menjaga stabilitas.

3. Perubahan Toleransi Risiko

Jika kondisi keuangan kamu berubah, misalnya pendapatan menurun atau meningkat, maka profil risiko juga ikut berubah. Kamu bisa menyesuaikan portofolio agar tetap nyaman secara finansial.

4. Kebijakan Ekonomi

Perubahan suku bunga atau kebijakan moneter bisa memengaruhi kinerja instrumen investasi. Oleh karena itu, penting untuk menyesuaikan portofolio secara berkala. Langkah ini membantu kamu tetap adaptif terhadap kondisi ekonomi.

5. Ada Tambahan atau Penarikan Dana

Saat kamu menambah dana investasi, sebaiknya langsung disesuaikan dengan alokasi target. Begitu juga saat menarik dana. Ini menjaga portofolio tetap konsisten dengan strategi awal.

6. Kinerja Aset Tidak Optimal

Jika ada aset yang performanya terus menurun karena faktor fundamental, kamu bisa mempertimbangkan untuk menggantinya. Rebalancing portofolio membantu kamu tetap fokus pada aset yang lebih potensial.

Baca juga: Portofolio Saham: Pengertian, Jenis, Cara Membuat, & Contoh

Strategi Rebalancing Portofolio

Beberapa cara praktis berikut bisa dilakukan untuk rebalancing sesuai kebutuhan dan gaya investasi kamu:

  • Menjual dan membeli aset: Ini adalah cara paling umum, yaitu menjual aset yang kelebihan porsi dan membeli yang kurang. Strategi ini langsung mengembalikan komposisi sesuai target.
  • Menggunakan dana baru: Jika kamu rutin berinvestasi, arahkan dana baru ke aset yang porsinya masih kurang. Cara ini lebih hemat biaya karena tidak perlu menjual aset lama.
  • Memanfaatkan dividen atau kupon: Hasil dari investasi bisa digunakan untuk menyeimbangkan kembali portofolio. Strategi ini cocok untuk investor jangka panjang.
  • Menggunakan reksa dana atau ETF (Exchange Traded Fund): Instrumen ini sudah terdiversifikasi sehingga membantu proses rebalancing menjadi lebih mudah. Dengan begitu, kamu tidak perlu mengatur banyak aset secara manual.
  • Menyesuaikan tujuan baru: Jika tujuan berubah, kamu bisa sekalian mengubah alokasi portofolio agar lebih relevan. Ini membuat strategi investasi kamu tetap fleksibel.

Contoh Rebalancing Portofolio

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh rebalancing portofolio saat harga emas mengalami kenaikan. Misalnya, kamu memiliki dana investasi Rp100 juta dan ingin membagi portofolio menjadi:

  • 50% reksa dana saham (Rp50 juta).
  • 30% reksa dana pasar uang (Rp30 juta).
  • 20% emas (Rp20 juta).


Setelah satu tahun, terjadi kenaikan harga emas yang cukup signifikan. Nilainya naik Rp8 juta, sedangkan saham naik Rp5 juta dan pasar uang naik Rp1 juta. Ini membuat komposisi berubah menjadi:

  • Saham: Rp55.000.000.
  • Pasar uang: Rp31.000.000.
  • Emas: Rp28.000.000.


Dengan total portofolio menjadi Rp114.000.000 ini, persentase dana investasi berubah menjadi:

  • Saham: 48,2%.
  • Pasar uang: 27,2%.
  • Emas: 24,6%.


Karena porsi emas meningkat cukup besar dari target awal 20%, rebalancing portofolio perlu dilakukan.

Kamu bisa menjual sebagian emas dan mengalihkan dana ke saham atau pasar uang agar kembali ke komposisi awal. Jadi, setelah rebalancing portofolio, persentasenya kembali ke:

  • 50% saham: Rp57.000.000.
  • 30% pasar uang: Rp34.200.000.
  • 20% emas: Rp22.800.000.


Rebalancing portofolio adalah strategi yang semakin optimal jika kamu memiliki aset lindung nilai seperti emas. Salah satu cara mudah berinvestasi emas adalah melalui Tabungan Emas dari Pegadaian.

Melalui layanan ini, kamu bisa mulai berinvestasi emas dengan nominal kecil, mulai dari Rp10 ribuan. Emas yang kamu miliki juga telah sesuai standar kemurnian 24 karat dan bisa dicetak menjadi emas batangan.

Transaksi bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan aplikasi Tring! by Pegadaian atau langsung di kantor cabang Pegadaian terdekat. Emas jadi bisa dijual atau digadai dengan mudah saat kamu membutuhkan dana cepat.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, mulai optimalkan strategi investasimu sekarang dengan Tabungan Emas dari Pegadaian dan jaga portofoliomu tetap seimbang!

Baca juga: Perbedaan Trading dan Investasi yang Wajib Diketahui

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Sahabat Pegadaian. All Rights Reserved