Portofolio Saham: Pengertian, Jenis, Cara Membuat, & Contoh

Ingin mulai perjalanan investasi saham tetapi masih ragu? Sebetulnya, hal ini wajar karena pasar saham cenderung fluktuatif dan pilihan emiten pun sangat beragam.
Akibatnya, investor pemula cukup kebingungan untuk memulai langkah dari mana. Salah satu upaya yang dapat dilakukan, yaitu dengan membangun portofolio saham terstruktur.
Bukan tanpa alasan, meraih kesuksesan dalam berinvestasi saham tidak bisa jika hanya mengandalkan keberuntungan atau membeli saham populer tanpa strategi yang jelas.
Tetapi, apa itu portofolio saham dan bagaimana cara membuatnya? Untuk penjelasan lebih lanjut, mari simak artikel di bawah ini.
Pengertian Portofolio Saham
Portofolio saham adalah sekumpulan aset berbentuk saham yang dimiliki oleh investor, baik individu maupun perusahaan dalam satu keranjang investasi.
Portofolio saham menampilkan profil risiko. Dengan kata lain, kamu bisa melihat profil risiko investor, mulai dari yang rendah hingga tinggi berdasarkan portofolionya.
Meskipun terdiri atas kumpulan saham, seorang investor terkadang juga memiliki lebih dari satu portofolio investasi yang dapat dipisahkan untuk berbagai kebutuhan.
Ada portofolio yang digunakan untuk investasi jangka pendek. Kemudian, portofolio lainnya dimanfaatkan untuk melakukan investasi jangka panjang.
Investor melakukan hal ini sebagai upaya untuk diversifikasi risiko, mengoptimalkan imbal hasil, manajemen keuangan yang lebih baik, dan perlindungan dari volatilitas pasar.
Misalnya, seorang investor hanya mempunyai saham teknologi. Lalu, sektor ini sedang lesu sehingga nilai seluruh aset berpotensi menurun, maka ia bisa merugi. Namun, jika memiliki lebih dari satu saham, kerugian tersebut dapat ditutupi dengan keuntungan dari sektor lain.
Jenis Portofolio Saham
Secara umum, terdapat tiga jenis portofolio saham yang biasanya dimiliki oleh investor. Adapun ketiga jenis tersebut adalah sebagai berikut.
1. Growth Portfolio
Jenis portofolio saham ini lebih berfokus pada pertumbuhan aset investasi yang menerapkan prinsip high risk high return.
Hal itu karena latar belakang penyusunan growth portfolio adalah untuk mendukung pertumbuhan dari portofolio itu sendiri.
Biasanya, growth portfolio berisi saham dari industri-industri yang sedang mengalami perkembangan atau saham lapis kedua.
2. Income Portfolio
Sesuai namanya, income portfolio menekankan pada pengamanan penghasilan reguler dari investasi (dividen) dibandingkan capital gain.
Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan yang dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Hanya saja, pemberian dividen tidak selalu rutin.
Sedangkan, capital gain merupakan keuntungan yang diperoleh dari penjualan saham dengan harga lebih tinggi daripada harga beli.
3. Value Portfolio
Jenis portofolio saham ini dimiliki oleh investor yang membeli saham dengan harga cenderung lebih terjangkau daripada saham lain di industri yang sama.
Umumnya, saham tersebut disebut sebagai undervalued stock. Investor akan menahan saham ini hingga menemukan value yang lebih tinggi dibandingkan saat pembeliannya.
Baca juga: Saham Suspend: Definisi, Penyebab, Dampak, & Cara Mengatasi
Cara Membuat Portofolio Saham
Membangun portofolio saham membutuhkan strategi yang efektif. Bagi pemula, sebaiknya tidak langsung membuat portofolio yang kompleks.
Berikut ini merupakan beberapa cara membuat portofolio saham yang dapat diterapkan oleh para investor pemula.
1. Tetapkan Tujuan Investasi
Sebagai langkah awal, kamu perlu menetapkan tujuan investasi. Misalnya, hendak berinvestasi dalam jangka panjang untuk dana pendidikan anak di masa depan.
Dengan tujuan yang jelas dan spesifik, kamu bisa menentukan pilihan jenis saham sekaligus penggunaan strategi investasi secara tepat sasaran.
2. Ketahui Profil Risiko
Perlu dipahami bahwa toleransi risiko pada masing-masing investor tidak sama. Oleh karena itu, penting sekali mengenali profil risiko diri sendiri. Dalam hal ini, terdapat tiga jenis profil risiko investasi:
- Konservatif: Cenderung memilih instrumen investasi dengan risiko minim/rendah.
- Moderat: Dapat mengambil risiko sedang untuk mendapatkan potensi keuntungan lebih besar.
- Agresif: Berani mengambil risiko tinggi demi memperoleh hasil investasi yang maksimal.
3. Pilih Saham
Selanjutnya, pilih saham dengan bijaksana yang didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal. Kamu perlu memperhatikan beberapa aspek berikut.
- Valuasi Saham: Pastikan harga saham berada di tingkat wajar melalui analisis rasio keuangan, seperti price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV).
- Kinerja Finansial Perusahaan: Lakukan pemeriksaan pada laba bersih, pertumbuhan penghasilan, serta laporan keuangan perusahaan.
- Prospek Industri: Sebaiknya, pilih sektor industri dengan prospek pertumbuhan jangka panjang.
4. Diversifikasi Investasi
Dalam investasi, diversifikasi penting untuk dilakukan demi meminimalkan risiko. Alih-alih hanya berinvestasi ke satu jenis saham atau sektor, sebaiknya campurkan saham dari berbagai industri pula, seperti teknologi, kesehatan, consumer goods, atau perbankan.
5. Tentukan Alokasi yang Seimbang
Proporsi investasi perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko yang dimiliki. Jadi, alokasikan aset secara seimbang.
Misalnya, investor agresif bisa menempatkan 60% dananya untuk investasi berisiko tinggi dan 40% sisanya pada saham blue chip.
6. Kombinasikan Blue Chip dengan Growth Stock
Cara membuat portofolio saham juga bisa dilakukan dengan mengombinasikan alokasi ke saham blue chip dan growth stock.
Langkah ini berguna untuk membuat portofolio investasi menjadi lebih defensif sekaligus memiliki peluang kenaikan yang signifikan. Mengapa demikian?
Sebab, saham blue chip yang berasal dari perusahaan besar termasuk likuid dan memberikan kestabilan dalam portofolio.
Sementara itu, growth stock adalah saham dari perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Meskipun risikonya besar, growth stock memberi peluang return lebih tinggi.
7. Tambahan Exchange Traded Fund
Exchange Traded Fund (ETF) dapat menjadi bagian dari portofolio, terutama bagi investor pemula yang ingin lebih sederhana.
Pasalnya, ETF bisa mewakili kumpulan saham dalam satu produk, seperti S&P 500 ETF. Dengan demikian, investor dapat melakukan diversifikasi investasi tanpa harus membeli banyak saham satu per satu.
Baca juga: Kapan Waktu Yang Tepat Menjual Saham?
Contoh Portofolio Saham untuk Pemula
Contoh portofolio saham sebetulnya tidak sulit ditemukan dan cukup beragam. Berikut ini adalah gambaran portofolio saham bagi investor pemula dengan modal awal Rp10 juta.
Sebagai catatan, contoh di bawah ini hanyalah gambaran atau ilustrasi agar pemahaman menjadi lebih jelas dan bukan rekomendasi atau ajakan investasi saham tertentu.
Pada skema tersebut, investor dapat mengalokasikan sebesar Rp4 juta dari total dana investasi ke saham yang stabil (blue chip).
Lalu, Rp3 juta ke saham yang bertumbuh (growth stock) dan Rp3 juta ke ETF. Kombinasi ini memberikan keseimbangan antara potensi return dan risiko dalam jangka panjang.
Demikian penjelasan seputar jenis, cara membuat, dan contoh portofolio saham. Memahami dinamika ini bisa membuat kamu melihat gambaran potensi pertumbuhan aset secara jelas.
Terlebih, mengelola portofolio saham memerlukan strategi jangka panjang. Di sisi lain, kamu juga perlu memikirkan tentang fleksibilitas finansial yang tidak terduga.
Dalam hal ini, Gadai Efek dari Pegadaian bisa menjadi solusi yang diandalkan sehingga tidak harus terburu-buru menjual kepemilikan aset.
Layanan ini memberikan kredit, mulai dari Rp1 juta hingga Rp5 miliar dengan jaminan berupa saham maupun obligasi tanpa warkat yang tercatat serta diperjualbelikan di BEI.
Proses pengajuannya praktis, yaitu melalui Call Center Pegadaian. Terdapat penawaran sewa modal terjangkau dengan jangka waktu fleksibel.
Untuk mengetahui besaran pinjaman yang mungkin diterima, hitung perkiraannya menggunakan fitur Simulasi Gadai Efek.
Tertarik untuk bertransaksi? Yuk, ajukan Gadai Efek untuk memperoleh likuiditas instan tanpa harus kehilangan aset di Pegadaian sekarang!
Baca juga: Memahami 6 Cara Beli Saham Luar Negeri & Risikonya
Artikel Lainnya

Investasi
8 Cara Main Saham untuk Pemula, Pahami Cara dan Risikonya!
Bermain saham perlu dilakukan dengan tepat agar tidak menimbulkan risiko kerugian tinggi. Mari cari tahu cara main saham untuk pemula selengkapnya di sini.

Investasi
Reksa Dana Pasar Uang: Cara Kerja, Keuntungan, & Risikonya
Reksa dana pasar uang adalah jenis reksa dana yang hanya mengalokasikan modalnya ke instrumen pasar uang. Mari ketahui informasi selengkapnya di artikel ini!

Investasi
5 Manfaat Belajar Investasi di Usia Muda
Tak hanya uang, kamu juga bisa menabung emas di Pegadaian. Sebenarnya, apa saja keuntungan menabung emas? Simak ulasannya di sini.
