Accrual Basis vs Cash Basis: Simak Perbedaannya, Yuk!

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Keuangan

07 February 2026
Bagikan :
image detail artikel

Banyak pelaku usaha merasa bisnisnya untung, tetapi ketika melihat laporan keuangan, saldo kas justru terasa tipis. Kondisi ini sering terjadi bukan karena penjualan menurun, melainkan karena metode pencatatan yang kurang tepat.

Memahami perbedaan accrual basis dan cash basis membantu kamu melihat kondisi keuangan secara lebih jelas, mulai dari arus kas, pendapatan, hingga kewajiban yang belum dibayarkan. Dengan begitu, kamu dapat membaca kinerja usaha secara menyeluruh.

Jika kamu masih bingung metode mana yang paling sesuai, simak penjelasan mengenai accrual basis vs cash basis pada artikel ini sampai akhir.

Apa Itu Accrual Basis (Basis Akrual)?

Accrual basis adalah metode akuntansi yang mencatat pendapatan dan beban saat transaksi terjadi, bukan saat kas diterima atau dibayarkan.

Artinya, ketika kamu sudah memiliki hak menagih atau sudah memiliki kewajiban membayar, transaksi tersebut langsung diakui dalam pembukuan, meskipun uangnya belum berpindah tangan.

Dengan metode ini, laporan keuangan akan mencatat piutang usaha, utang usaha, beban yang masih harus dibayar, dan pendapatan yang belum diterima

Karena mencakup seluruh kewajiban dan hak perusahaan, accrual basis mampu memberikan gambaran kondisi keuangan yang lebih lengkap, detail, dan realistis.

Metode ini juga umum digunakan oleh perusahaan menengah hingga besar karena sesuai dengan standar akuntansi internasional.

Dengan pencatatan yang rapi, pelaku usaha jadi lebih mudah melihat kapan arus kas berpotensi seret, misalnya saat piutang menumpuk atau kebutuhan operasional meningkat.

Di momen seperti ini, sebagian pelaku usaha biasanya mulai menyiapkan tambahan dana.

Salah satunya dengan memanfaatkan pembiayaan berbasis jaminan BPKB kendaraan seperti Pinjaman Usaha Pegadaian agar operasional tetap berjalan tanpa harus menjual aset produktif.

Apa Itu Cash Basis (Basis Kas)?

Cash basis adalah metode pencatatan yang hanya mengakui transaksi ketika kas benar-benar diterima atau dibayarkan.

Jadi, pendapatan dicatat saat uang masuk, dan beban dicatat saat uang keluar. Metode ini lebih berfokus pada arus kas nyata, sehingga tidak mencatat piutang sebelum dibayar, tidak mencatat utang sebelum dilunasi, dan pembukuan lebih sederhana

Berkat kemudahan menerapkannya, cash basis sering digunakan oleh usaha kecil atau bisnis dengan transaksi yang tidak terlalu kompleks, seperti toko ritel, usaha rumahan, atau praktik jasa sederhana.

Baca juga: Cash Flow vs Profit, Mana yang Lebih Penting? Yuk Simak!

Accrual Basis vs Cash Basis: Apa Saja Perbedaannya?

Sebelum memilih metode yang tepat, kamu perlu memahami perbedaan basis kas dan basis akrual dari beberapa aspek penting berikut.

1. Waktu Pengakuan Transaksi

Pada cash basis, pendapatan baru dicatat ketika uang benar-benar diterima dan beban diakui saat kas sudah dibayarkan. Dengan kata lain, pencatatan sepenuhnya bergantung pada perpindahan uang.

Sebaliknya, accrual basis mengakui transaksi sejak hak dan kewajiban muncul. Ketika kamu sudah melakukan penjualan kredit atau menerima tagihan, transaksi tersebut tetap dicatat meskipun pembayaran belum terjadi.

Pendekatan ini membuat pencatatan lebih mencerminkan aktivitas bisnis yang sebenarnya.

2. Tingkat Ketepatan Laporan Keuangan

Cash basis memang mampu menunjukkan posisi kas secara nyata pada saat itu juga, tetapi kurang menggambarkan kondisi usaha secara menyeluruh.

Misalnya, penjualan besar yang belum dibayar pelanggan tidak akan terlihat sebagai pendapatan. Akibatnya, kinerja bisnis bisa tampak lebih rendah dari kenyataan.

Di sisi lain, accrual basis justru memasukkan seluruh piutang dan utang sehingga laporan keuangan menjadi lebih komprehensif dan akurat untuk menilai laba rugi serta kesehatan usaha dalam jangka panjang.

3. Kompleksitas Pencatatan

Dari segi kompleksitas pencatatan, cash basis jauh lebih sederhana. Kamu cukup mencatat uang masuk dan keluar tanpa perlu membuat jurnal penyesuaian tambahan. Metode ini cocok bagi pelaku usaha yang belum memiliki sistem pembukuan rumit.

Sementara itu, accrual basis memerlukan proses yang lebih detail karena setiap transaksi harus dicatat meskipun belum ada kas yang bergerak. Terdapat pencatatan piutang, utang, beban akrual, hingga penyesuaian periodik.

Hal ini memang membutuhkan ketelitian lebih, tetapi hasilnya memberikan informasi keuangan yang lebih lengkap.

4. Pengaruh Terhadap Arus Kas

Kemudian, jika dilihat dari pengaruh terhadap arus kas, cash basis terasa lebih praktis karena secara langsung menunjukkan berapa uang yang tersedia. Kamu bisa segera mengetahui apakah saldo kas cukup untuk membayar operasional harian.

Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena tidak dapat memperkirakan kewajiban yang akan datang.

Berbeda dengan accrual basis yang meskipun memerlukan laporan arus kas terpisah, justru membantu kamu memprediksi tagihan, cicilan, atau pendapatan yang belum diterima sehingga perencanaan keuangan menjadi lebih matang.

Baca juga: Pentingnya Cash Flow Projection, Komponen, & Cara Membuat

5. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi dan Skala Usaha

Cash basis umumnya digunakan oleh usaha kecil dengan transaksi sederhana karena mudah diterapkan. Akan tetapi, metode ini tidak sepenuhnya memenuhi standar akuntansi formal.

Sebaliknya, accrual basis lebih selaras dengan praktik akuntansi yang berlaku luas dan lazim digunakan oleh perusahaan menengah hingga besar yang memiliki transaksi kompleks.

Contohnya, seperti penjualan kredit, pinjaman, atau pengelolaan persediaan dalam jumlah besar.

6. Analisis Bisnis

Karena semua transaksi tercatat pada periode terjadinya, kamu dapat melihat tren pendapatan, beban, dan keuntungan secara lebih konsisten dari waktu ke waktu. Data ini sangat penting untuk evaluasi strategi dan pengambilan keputusan.

Cash basis cenderung menyulitkan analisis tren karena adanya jeda antara transaksi dan pencatatan kas, sehingga laporan bisa terlihat naik turun secara tidak wajar.

Contoh Accrual Basis dan Cash Basis

Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh basis kas dan basis akrual dalam praktik pencatatan transaksi sehari-hari.

Contoh Cash Basis

Pada metode cash basis, pencatatan benar-benar bergantung pada perpindahan uang. Misalnya, kamu mengelola usaha katering dan menerima pesanan untuk acara kantor pada awal September.

Layanan sudah diberikan dan makanan telah dikirim pada hari itu juga, tetapi klien baru melunasi pembayaran dua minggu kemudian.

Dalam sistem cash basis, pendapatan tidak langsung dicatat saat pesanan selesai dikerjakan, melainkan baru diakui ketika uang pembayaran benar-benar masuk ke rekening.

Selama kas belum diterima, transaksi tersebut belum tercermin sebagai pendapatan di laporan keuangan.

Contoh Accrual Basis

Sebaliknya, pada accrual basis, pencatatan dilakukan ketika hak dan kewajiban muncul. Bayangkan kamu menjalankan bisnis percetakan dan membeli bahan baku kertas dari pemasok dengan sistem tempo 30 hari.

Barang sudah diterima dan digunakan untuk produksi pada bulan berjalan, tetapi pembayarannya baru dilakukan bulan berikutnya.

Dalam metode accrual basis, biaya pembelian tersebut tetap dicatat pada bulan saat bahan baku diterima karena pada saat itu kewajiban sudah timbul.

Dengan begitu, laporan keuangan menunjukkan beban yang sesuai dengan aktivitas produksi periode tersebut, meskipun kas belum keluar.

Accrual Basis vs Cash Basis: Mana yang Lebih Baik?

Jawabannya tergantung pada skala dan kebutuhan bisnismu. Jika usaha masih kecil, transaksi dominan tunai, dan kamu ingin pembukuan yang simpel, cash basis sudah cukup.

Namun, jika bisnis mulai berkembang, memiliki banyak piutang, utang, kredit, atau transaksi besar, accrual basis lebih disarankan karena membantu kamu:

  • Melihat laba rugi secara akurat.
  • Mengontrol kewajiban.
  • Membuat proyeksi keuangan.
  • Mengambil keputusan strategis.


Dengan kata lain, semakin kompleks bisnis, semakin penting menggunakan accrual basis.

Demikian pembahasan mengenai accrual basis dan cash basis. Melalui metode pencatatan yang tepat, kamu tidak hanya mengetahui berapa besar pendapatan dan beban, tetapi juga dapat membaca posisi kas, piutang, serta kewajiban secara lebih utuh.

Informasi inilah yang membantu kamu memahami kondisi usaha sebenarnya, termasuk ketika arus kas mulai terasa sempit meskipun penjualan tetap berjalan.

Kondisi seperti keterlambatan pembayaran pelanggan, kebutuhan menambah stok, atau rencana memperluas kapasitas produksi sering kali menuntut ketersediaan modal dalam waktu cepat.

Tanpa perencanaan dana yang memadai, operasional bisnis bisa terhambat meskipun peluang pasar sedang terbuka lebar.

Untuk memenuhi kebutuhan bisnis tersebut, kamu bisa menjaminkan BPKB kendaraan sebagai syarat Pinjaman Usaha dari Pegadaian dengan skema cicilan tetap setiap bulannya.

Meskipun begitu, kamu tidak usah khawatir karena kendaraan tetap bisa kamu gunakan untuk keperluan sehari-hari.

Selain itu, pembiayaan ini ditujukan bagi kamu yang miliki usaha sendiri dan telah berjalan sekurang-kurangnya satu tahun, baik dalam bentuk usaha perorangan maupun badan usaha.

Jadi, segera kunjungi kantor cabang Pegadaian terdekat untuk mengajukan Pinjaman Usaha dan dapatkan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan bisnismu!

Baca juga: Mengenal Analisis Fundamental, Fungsi, & Langkah Analitisnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Sahabat Pegadaian. All Rights Reserved