Ekonomi Hijau: Pengertian, Prinsip, Konsep, & Manfaatnya

Ekonomi hijau adalah aktivitas ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan membatasi penggunaan sumber daya alam dan mengurangi emisi karbon.
Kegiatan ini tidak hanya fokus pada keuntungan finansial, tetapi juga pada keberlanjutan yang ramah lingkungan.
Ingin tahu lebih lanjut tentang apa itu ekonomi hijau? Yuk, pahami selengkapnya di artikel ini!
Pengertian Ekonomi Hijau
Ekonomi hijau atau green economy adalah sistem ekonomi berkelanjutan yang mengutamakan pertumbuhan tanpa merusak lingkungan.
Konsep ini menekankan pertumbuhan yang berkelanjutan, rendah karbon, dan inklusif dengan membatasi penggunaan sumber daya alam serta mengurangi emisi karbon.
Ekonomi hijau mendorong industri untuk menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab, mengurangi polusi, dan meningkatkan kesejahteraan sosial.
Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan dapat tercapai dengan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Pada intinya, ekonomi hijau membuktikan bahwa keuntungan dan kesejahteraan dapat dicapai tanpa merusak ekosistem.
Sistem ini mendorong investasi pada infrastruktur dan aktivitas ramah lingkungan untuk mengurangi emisi, meningkatkan efisiensi energi, serta melestarikan keanekaragaman hayati.
Konsep Ekonomi Hijau
Istilah ekonomi hijau pertama kali muncul dalam laporan Pemerintah Inggris berjudul Untuk Ekonomi Hijau pada 1989 yang disusun oleh sekelompok ekonom lingkungan.
Namun, hingga kini belum ada definisi yang disepakati secara internasional. Berikut ini beberapa konsep ekonomi hijau dari berbagai pemikiran:
1. Pemerintah Indonesia
Ekonomi hijau merupakan paradigma pembangunan berbasis efisiensi sumber daya dengan internalisasi biaya terhadap eksploitasi alam dan degradasi lingkungan.
Sistem ini juga bertujuan mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja layak, dan memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Baca juga: Inflasi Hijau: Arti, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya
2. International Chamber of Commerce
Menurut International Chamber of Commerce pada 2011, ekonomi hijau mengandalkan kerja sama antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan.
Konsep ini menegaskan bahwa pembangunan sosial dan kemajuan harus sejalan dengan keberlanjutan ekosistem tanpa mengabaikan faktor lingkungan.
3. United Nations Environment Programme (UNEP)
Pada 2011, UNEP mendefinisikan ekonomi hijau sebagai sistem yang mempertimbangkan dampak lingkungan jangka panjang.
Kegiatan ekonomi harus berkelanjutan agar kesejahteraan meningkat tanpa merusak ekosistem.
Jika diterapkan dengan baik, ekonomi hijau dapat menjaga keseimbangan pertumbuhan dan kelestarian lingkungan.
4. Danish 92 Group
Danish 92 Group menekankan bahwa ekonomi hijau adalah proses transformasi berkelanjutan yang menciptakan kesejahteraan dan keadilan.
Untuk keberlanjutannya, keseimbangan ekonomi dan lingkungan harus dijaga meski dengan sumber daya terbatas.
5. Government of South Africa
Pemerintah Afrika Selatan menegaskan bahwa ekonomi hijau harus memberdayakan ekonomi kulit hitam serta mendukung pengusaha muda dan perempuan.
Konsep ini juga mendorong keterlibatan perusahaan dalam aktivitas sosial untuk menciptakan keseimbangan ekonomi dan keadilan bagi semua.
6. United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD)
UNCTAD mendefinisikan ekonomi hijau sebagai sistem yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketimpangan.
Konsep ini memastikan generasi mendatang terhindar dari risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis.
Baca juga: Pengertian Skala Prioritas: Manfaat, dan Cara Menyusunnya
7. United Nations Capital Development Fund (UNCSD)
UNCSD mendefinisikan ekonomi hijau sebagai perspektif untuk mengembangkan ekonomi dan lingkungan secara bersamaan, menciptakan peluang agar keduanya dapat berjalan seimbang.
8. Koalisi Ekonomi Hijau
Koalisi Ekonomi Hijau mendefinisikan ekonomi hijau sebagai sistem yang tangguh dan meningkatkan kualitas hidup.
Namun, penggunaannya harus dibatasi mengingat keterbatasan sumber daya alam, terutama yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Prinsip Ekonomi Hijau
Ekonomi hijau bertujuan menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
Untuk mencapai hal tersebut, terdapat lima prinsip ekonomi hijau yang menjadi pedoman dalam penerapannya, yaitu:
1. Kesejahteraan (Well-being)
Kesejahteraan menjadi tujuan utama ekonomi hijau dengan memastikan setiap individu dapat menikmati kehidupan lebih baik secara berkelanjutan. Prinsip ini mencakup:
- Mendorong pekerjaan dan usaha yang ramah lingkungan.
- Menciptakan kesejahteraan bagi semua.
- Berfokus pada peningkatan pendapatan dan modal sosial, fisik, serta alam.
- Memastikan akses terhadap sistem berkelanjutan, infrastruktur, dan pendidikan.
2. Keadilan (Justice)
Ekonomi hijau juga menjamin kesetaraan bagi seluruh masyarakat, tanpa diskriminasi. Prinsip ini mencakup:
- Mendukung UMKM dan mata pencaharian berkelanjutan.
- Inklusif, tidak diskriminatif, dan mendukung pemberdayaan perempuan.
- Mendorong kesetaraan antargenerasi.
- Mengatasi kemiskinan serta melindungi hak asasi manusia dan pekerja.
3. Batas Planet (Planetary Boundaries)
Ekonomi hijau bertujuan untuk menjaga, memulihkan, dan berinvestasi pada alam. Oleh karena itu, prinsip ini menekankan:
- Menerapkan prinsip ekonomi sirkular untuk mengurangi limbah.
- Menjaga dan memulihkan ekosistem.
- Mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Baca juga: Ekonomi Kreatif: Pengertian, Jenis, Manfaat, & Contohnya
4. Efisiensi dan Kecukupan (Efficiency & Sufficiency)
Prinsip ini memastikan bahwa sumber daya digunakan untuk mendorong pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Beberapa langkah yang diterapkan meliputi:
- Mengurangi jejak karbon dan penggunaan sumber daya berlebih.
- Mendorong produksi dan konsumsi berkelanjutan.
- Menerapkan prinsip "pencemar membayar" dan memberi insentif bagi pelestarian lingkungan.
5. Tata Kelola yang Baik (Good Governance)
Keberhasilan ekonomi hijau bergantung pada tata kelola yang baik dengan mengintegrasikan berbagai kebijakan dan pemangku kepentingan. Prinsip ini meliputi:
- Mengintegrasikan kebijakan ekonomi dan lingkungan.
- Mengedepankan kerja sama lintas sektor dan pemerintahan.
- Berbasis sains dan pengetahuan lokal untuk pengambilan keputusan.
Manfaat Ekonomi Hijau
Ekonomi hijau tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mendorong kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi. Berikut beberapa manfaat ekonomi hijau:
- Ketahanan pangan: Lingkungan yang sehat dapat mendukung hasil pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memastikan ketersediaan pangan berkelanjutan.
- Pengurangan limbah dan polusi: Penggunaan energi terbarukan dan sistem sirkular mengurangi emisi gas serta limbah industri. Hal ini berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat yang lebih baik.
- Peluang kerja baru: Sektor ramah lingkungan menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan.
- Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan: Produksi meningkat tanpa merusak ekosistem, menciptakan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Tantangan Ekonomi Hijau di Indonesia
Meskipun pemerintah terus mendorong penerapan ekonomi hijau dan energi terbarukan, realisasinya masih menghadapi berbagai tantangan. Berikut beberapa tantangan ekonomi hijau di Indonesia:
- Pemanfaatan energi terbarukan rendah: Indonesia memiliki potensi besar dalam energi terbarukan, tetapi pemanfaatannya masih minim. Misalnya, energi matahari yang berpotensi 207,8 gigawatt baru dimanfaatkan sekitar 0,07%, sementara panas bumi baru 8,9%.
- Ketergantungan pada batu bara: Batu bara masih menjadi sumber energi utama sehingga transisi ke energi hijau membutuhkan kebijakan kuat dan perubahan bertahap.
- Minimnya literasi masyarakat: Kurangnya edukasi membuat dukungan terhadap produk dan kebijakan ekonomi hijau masih rendah.
- Tingginya biaya investasi: Infrastruktur energi hijau membutuhkan biaya besar. Diperlukan strategi pendanaan dan dukungan luas agar target nol emisi 2060 tercapai.
Itulah ulasan lengkap mengenai ekonomi hijau, dengan memahami prinsip, konsep, hingga manfaatnya dapat menjadi langkah awal untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Selain berkontribusi pada lingkungan, penting juga untuk menjaga stabilitas finansial di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Salah satu caranya adalah dengan berinvestasi pada aset yang aman saat inflasi, seperti emas.
Emas merupakan pilihan yang tepat, terutama saat inflasi karena nilainya cenderung meningkat tajam.
Untuk itu, kamu bisa memilih Tabungan Emas di Pegadaian, di mana saldo tabungan emas dapat ditukar menjadi perhiasan atau dicairkan menjadi emas batangan.
Jika butuh dana cepat, kamu juga bisa menjadikan saldo Tabungan Emas sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman.
Untuk memudahkan perhitungan beli emas, kamu dapat menggunakan Simulasi Tabungan Emas yang praktis.
Menabung emas pun semakin mudah, bisa dilakukan secara online melalui aplikasi Pegadaian Digital atau datang langsung ke kantor cabang Pegadaian terdekat.
Jadi, jika tertarik untuk berinvestasi yang aman, investasi emas di Pegadaian adalah solusinya. Yuk, optimalkan keuntunganmu sekarang dengan menabung emas di Pegadaian!
Baca juga: 20+ Contoh Prinsip Ekonomi dalam Kehidupan Sehari-hari
Artikel Lainnya

Keuangan
Ingin Melunasi Utang Tapi Tidak Punya Uang? Ini Solusinya
Terlilit utang bisa memunculkan masalah finansial yang serius. Jadi, apa yang harus dilakukan jika ingin melunasi utang tapi tidak punya uang? Cek di sini.

Keuangan
5 Cara Menabung Unik ini Jadi Bukti Bahwa Mengumpulkan Uang Tidak Sulit
Tak hanya uang, kamu juga bisa menabung emas di Pegadaian. Sebenarnya, apa saja keuntungan menabung emas? Simak ulasannya di sini.

Keuangan
DTKS: Pengajuan Bantuan Sosial untuk Masyarakat Tidak Mampu
DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) adalah informasi masyarakat dengan status kesejahteraan ekonomi yang rendah. Ketahui cara daftarnya di sini!