Perbedaan Entrepreneurship dan Intrapreneurship dalam Bisnis

Tidak semua orang yang punya ide bisnis harus langsung membangun usaha sendiri. Ada juga yang memilih berkembang di dalam perusahaan, tetapi tetap membawa semangat inovasi seperti seorang pengusaha.
Pada kondisi ini, tentu kamu mulai bertanya: sebenarnya lebih tepat menjadi entrepreneur atau intrapreneur?
Agar kamu bisa menentukan karier yang lebih terarah, simak perbedaan entrepreneur dan intrapreneur berikut ini supaya tidak salah langkah!
Pengertian Entrepreneurship
Entrepreneurship adalah aktivitas membangun dan mengelola bisnis secara mandiri. Dalam hal ini, kamu berperan sebagai pemilik usaha yang bertanggung jawab penuh terhadap semua proses, mulai dari ide, perencanaan, eksekusi, hingga risiko yang mungkin terjadi.
Seorang entrepreneur biasanya memulai dari nol. Kamu perlu menentukan produk atau layanan, mencari pasar, mengatur keuangan, hingga membangun tim jika bisnis mulai berkembang.
Tantangan utamanya adalah ketidakpastian karena semua keputusan ada di tangan kamu. Namun, di balik tantangan tersebut, entrepreneurship memberikan kebebasan yang cukup besar.
Kamu bisa menentukan arah bisnis sesuai visi pribadi, mengatur strategi sendiri, dan berpotensi mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Pengertian Intrapreneurship
Berbeda dengan entrepreneurship, intrapreneurship adalah kemampuan berinovasi dan berpikir layaknya pengusaha, tetapi dilakukan di dalam sebuah perusahaan atau organisasi.
Jika kamu seorang intrapreneur, kamu tetap bekerja sebagai bagian dari perusahaan. Namun, kamu diberi ruang untuk mengembangkan ide, menciptakan solusi baru, atau meningkatkan sistem yang sudah ada.
Kamu tidak perlu memulai dari nol karena sudah ada struktur, sumber daya, dan dukungan dari perusahaan. Peran intrapreneur sangat penting dalam perkembangan bisnis modern.
Kini perusahaan besar justru tumbuh karena adanya individu-individu yang berani berinovasi dari dalam. Risiko yang kamu hadapi juga cenderung lebih rendah dibandingkan dengan entrepreneur, karena tanggung jawab finansial tidak sepenuhnya ada di tangan kamu.
Baca juga: Bisnis Retail: Fungsi, Jenis, Contoh, & Bedanya dengan Grosir
Perbedaan Entrepreneurship dan Intrapreneurship
Selain dilihat dari arti dan status pekerjaan, terdapat beberapa perbedaan entrepreneurship dan intrapreneurship yang perlu kamu pahami, di antaranya:
1. Kepemilikan dan Kendali
Entrepreneur memiliki bisnisnya sendiri sehingga semua keputusan berada di tangan kamu sebagai pemilik. Kamu bebas menentukan strategi, arah bisnis, hingga cara mengelola operasional.
Sementara itu, intrapreneur bekerja di dalam perusahaan. Meskipun kamu bisa mengembangkan ide, keputusan akhir tetap berada pada manajemen atau pimpinan perusahaan.
2. Tingkat Risiko
Menjadi entrepreneur berarti kamu harus siap menghadapi risiko yang lebih besar, terutama dari sisi keuangan. Modal yang digunakan biasanya berasal dari pribadi atau pinjaman, sehingga jika bisnis gagal, kamu yang menanggung dampaknya.
Sebaliknya, intrapreneur memiliki risiko yang lebih rendah. Kamu tetap mendapatkan gaji dan fasilitas dari perusahaan, meskipun ide yang kamu jalankan belum tentu berhasil.
3. Sumber Daya
Entrepreneur harus mencari dan mengelola sumber daya sendiri, mulai dari modal, tim, hingga jaringan bisnis. Semua proses ini membutuhkan usaha ekstra dan waktu yang tidak sedikit.
Di sisi lain, intrapreneur sudah memiliki akses ke sumber daya perusahaan. Hal ini membuat kamu bisa lebih fokus pada pengembangan ide dan inovasi tanpa harus memikirkan hal-hal dasar seperti pendanaan atau operasional.
4. Kebebasan Berinovasi
Entrepreneur memiliki kebebasan penuh dalam berinovasi. Kamu bisa mencoba berbagai strategi tanpa harus menunggu persetujuan pihak lain.
Namun, intrapreneur tetap harus menyesuaikan ide dengan kebijakan dan tujuan perusahaan. Meskipun ada ruang untuk berkreasi, ada batasan tertentu yang perlu kamu ikuti.
Baca juga: Wirausaha: Pengertian, Unsur, Karakteristik, dan Contohnya
5. Potensi Keuntungan
Keuntungan yang didapat entrepreneur biasanya lebih besar karena bisnisnya merupakan kepemilikan sendiri. Jika usaha berkembang pesat, hasil yang kamu terima sebagai pemilik juga akan meningkat.
Sementara itu, intrapreneur mendapatkan keuntungan dalam bentuk gaji, bonus, atau insentif. Meskipun tidak sebesar pendapatan entrepreneur, pendapatan ini cenderung lebih stabil.
6. Fokus Tanggung Jawab
Sebagai entrepreneur, kamu bertanggung jawab atas seluruh aspek bisnis. Mulai dari strategi, pemasaran, keuangan, hingga operasional.
Sebaliknya, intrapreneur biasanya memiliki fokus yang lebih spesifik sesuai dengan peran di perusahaan. Kamu bisa lebih mendalami satu bidang tanpa harus memikirkan keseluruhan bisnis.
7. Kecepatan Pengambilan Keputusan
Sebagai entrepreneur, kamu bisa mengambil keputusan dengan lebih cepat karena tidak perlu melalui banyak proses persetujuan. Hal ini membuat kamu lebih fleksibel dalam merespons peluang pasar.
Sementara itu, intrapreneur biasanya harus mengikuti alur birokrasi perusahaan. Ide yang kamu ajukan perlu melalui proses evaluasi dan persetujuan, sehingga keputusan cenderung lebih lambat.
8. Lingkungan Kerja
Entrepreneur membangun lingkungan kerjanya sendiri. Kamu bisa menentukan budaya kerja, sistem tim, hingga cara berkomunikasi sesuai dengan nilai yang kamu pegang.
Berbeda dengan intrapreneur yang bekerja dalam lingkungan yang sudah terbentuk. Kamu perlu beradaptasi dengan budaya perusahaan yang ada, termasuk aturan dan sistem kerja yang berlaku.
9. Stabilitas Karier
Menjadi entrepreneur berarti kamu harus siap dengan ketidakpastian, terutama di fase awal bisnis. Pendapatan bisa naik turun tergantung kondisi usaha yang kamu jalankan.
Memahami perbedaan entrepreneur dan intrapreneur akan membantu kamu mengenali passion diri sendiri. Apakah kamu lebih nyaman mengambil risiko besar dengan kebebasan penuh, atau lebih memilih berinovasi dalam sistem yang sudah berjalan?
Jika kamu merasa lebih cocok menjadi entrepreneur dan ingin mulai membangun bisnis sendiri, salah satu tantangan awal yang sering muncul adalah modal. Pada kondisi ini, kamu perlu mempertimbangkan solusi yang tepat agar rencana bisnis bisa segera terlaksana.
Guna mewujudkan langkah tersebut, kamu bisa memanfaatkan layanan Pinjaman Usaha di Pegadaian. Untuk mengajukannya, kamu perlu menyiapkan dokumen-dokumen penting yang dijadikan sebagai syarat, termasuk BPKB kendaraan.
Pinjaman Usaha tersedia untuk pelaku usaha individu maupun badan usaha. Selama pembayaran, kendaraan tetap bisa digunakan. Adapun cicilan yang dibayarkan bernilai tetap per bulannya.
Jadi, tunggu apa lagi? Saatnya mulai langkah nyata untuk membangun usaha yang kamu impikan dengan mengajukan Pinjaman Usaha di kantor cabang Pegadaian terdekat!
Baca juga: Cara Memulai Usaha Cafe 5 Juta & Rincian Anggarannya
Artikel Lainnya

Wirausaha
Bisnis Startup: Karakteristik, Jenis, & Cara Mengembangkannya
Bisnis startup adalah jenis usaha rintisan yang berfokus pada inovasi produk dan menemukan target pasar secara tepat. Simak informasi lebih lanjut di sini!

Wirausaha
Apa Itu Merger? Ini Jenis, Manfaat, Tujuan, & Contohnya
Merger adalah langkah strategis bisnis untuk menggabungkan dua atau lebih perusahaan menjadi satu kesatuan. Simak informasi lengkapnya di artikel ini!

Wirausaha
Manisnya Bisnis Sewa Mobil Saat Lebaran
Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah sekaligus mendatangkan banyak manfaat, tidak hanya umat Muslim, tapi bagi siapa saja. Salah satu kegiatan yang cukup bergeliat di bulan suci adalah ekonomi dan bisnis. Pada bulan Ramadhan, ada banyak sekali peluang bisnis yang bisa dicoba, mulai dari usaha menjual katering dan menu berbuka, berjualan pakaian dan perlengkapan salat, […]
