Reksa Dana atau Emas Digital? Ini Perbedaan dan Keuntungannya

Sebagian orang mungkin masih bingung saat dihadapkan pada pilihan reksa dana atau emas digital, apalagi kalau tujuannya ingin mendapatkan keuntungan yang optimal di tahun 2026.
Keduanya sama-sama mudah diakses, bisa dimulai dari nominal kecil, dan sering direkomendasikan untuk pemula. Namun di balik kemudahan itu, cara kerja dan potensi hasilnya ternyata cukup berbeda.
Supaya kamu tidak salah langkah, penting untuk memahami perbedaan sekaligus melihat contoh perhitungan keuntungannya secara langsung. Mari simak artikel ini untuk informasi yang lebih detail.
Perbedaan Investasi Reksa Dana dan Emas Digital
Sebelum menentukan pilihan antara reksa dana atau emas digital untuk investasi, penting untuk memahami dulu perbedaan mendasar di antara keduanya. Dengan begitu, kamu bisa menilai mana yang paling sesuai dengan tujuan dan profil risiko kamu.
1. Bentuk Investasi yang Dimiliki
Perbedaan yang cukup jelas ada pada bentuk investasinya. Emas digital pada dasarnya tetap berbasis emas fisik. Artinya, kamu mempunyai kepemilikan emas yang sewaktu-waktu bisa dicetak fisik, meski biasanya ada biaya tambahan untuk proses cetaknya.
Berbeda dengan reksa dana yang tidak memiliki bentuk fisik. Saat kamu berinvestasi, dana akan dikelola oleh manajer investasi dan ditempatkan ke berbagai instrumen, seperti deposito atau obligasi.
Kamu hanya akan menerima laporan perkembangan investasi secara berkala melalui aplikasi atau email yang terdaftar.
2. Modal Awal yang Dibutuhkan
Jika dilihat dari modal awal, emas digital memiliki keunggulan karena bisa dimulai dari nominal yang kecil. Ini karena sistemnya berbasis tabungan emas sehingga kamu bisa membeli dalam bentuk gram kecil secara bertahap.
Sementara itu, reksa dana juga tergolong terjangkau, meski umumnya butuh modal awal yang sedikit lebih besar. Beberapa produk ada yang bisa dimulai dari Rp10.000, tapi ada juga yang menetapkan minimum pembelian hingga ratusan ribu.
3. Potensi Keuntungan (Imbal Hasil)
Jika melihat perbedaan reksa dana atau emas digital dari sisi keuntungan, emas digital cenderung memberikan kenaikan nilai yang stabil dalam jangka menengah hingga panjang, meski kenaikannya tidak terlalu besar dalam waktu singkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, harga emas memang menunjukkan tren naik sehingga cocok untuk menjaga nilai aset.
Reksa dana menawarkan potensi imbal hasil yang lebih bervariasi tergantung jenisnya. Namun, potensi keuntungan yang lebih tinggi juga disertai dengan risiko yang lebih besar. Berikut ini perbandingannya:
4. Risiko Investasi dan Cara Pengelolaannya
Emas digital dikenal lebih stabil karena nilainya mengikuti harga emas dunia. Risiko penurunannya relatif lebih rendah dibandingkan instrumen berbasis pasar modal. Inilah alasan kenapa emas sering dipilih sebagai aset pelindung saat kondisi ekonomi tidak pasti.
Di sisi lain, reksa dana memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda. Reksa dana pasar uang cenderung stabil, sedangkan reksa dana saham bisa mengalami fluktuasi yang cukup tajam.
Namun, keunggulan reksa dana adalah pengelolaannya dilakukan oleh profesional sehingga kamu tidak perlu menganalisis pasar sendiri.
5. Kemudahan Pencairan Dana (Likuiditas)
Baik reksa dana atau emas digital sama-sama mudah dicairkan. Emas digital bisa dijual kapan saja sesuai harga pasar yang berlaku saat itu.
Sementara itu, reksa dana juga cukup likuid, meski proses pencairannya biasanya membutuhkan waktu beberapa hari kerja sampai dana masuk ke rekening kamu.
Baca juga: Cicil Emas Pegadaian: Syarat, Tata Cara, & Keuntungannya
Contoh Perhitungan Imbal Hasil Reksa Dana vs Emas Digital
Setelah memahami perbedaannya, kamu juga perlu tahu bagaimana cara menghitung potensi keuntungan dari masing-masing instrumen.
Dengan melihat contoh perhitungan berikut, kamu bisa lebih mudah membandingkan hasil investasi reksa dana atau emas digital secara nyata.
1. Cara Menghitung Keuntungan Reksa Dana
Sebelum menghitung keuntungan, kamu perlu memahami dua istilah penting, yaitu NAB (Nilai Aktiva Bersih) dan NAB per unit penyertaan (NAB/UP). NAB merupakan total nilai dana yang dikelola dalam suatu produk reksa dana setelah dikurangi biaya operasional.
Sementara NAB per unit adalah harga yang harus dibayar untuk setiap unit reksa dana. Saat kamu berinvestasi, dana yang kamu setorkan akan dikonversi menjadi sejumlah unit berdasarkan harga NAB tersebut.
Untuk mengetahui berapa unit yang kamu miliki, rumusnya cukup sederhana, yaitu:
Jumlah unit = total investasi ÷ NAB per unit
Misalnya, kamu investasi Rp5.000.000 saat harga NAB per unit Rp2.500. Maka jumlah unit yang kamu dapat adalah:
Rp5.000.000 ÷ Rp2.500 = 2.000 unit.
Artinya, kamu punya 2.000 unit reksa dana.
Kemudian, keuntungan reksa dana berasal dari kenaikan nilai NAB. Jadi, ketika harga NAB naik dan kamu menjual unit yang dimiliki, di situlah kamu mendapatkan profit. Rumus sederhananya adalah:
Keuntungan = (NAB saat jual x jumlah unit) − total modal awal
Contohnya, kamu punya 2.000 unit reksa dana dengan harga beli Rp2.500 per unit. Setelah satu tahun, NAB naik menjadi Rp3.200 per unit dan kamu memutuskan untuk menjual semuanya. Maka total nilai investasi kamu menjadi: Rp3.200 x 2.000 unit = Rp6.400.000.
Keuntungan = Rp6.400.000 − Rp5.000.000 = Rp1.400.000
Jadi, kamu memperoleh keuntungan sebesar Rp1,4 juta atau sekitar 28% dari modal awal.
Baca juga: Syarat dan Biaya Cetak Emas Pegadaian
2. Cara Menghitung Keuntungan Emas Digital
Berbeda dengan reksa dana, keuntungan investasi emas hanya berasal dari selisih antara hasil penjualan dan total modal awal. Sederhananya, kamu untung kalau harga emas saat dijual lebih tinggi dari harga beli ditambah biaya lainnya.
Contoh perhitungannya:
Kamu membeli emas digital 5 gram dengan harga Rp1.000.000 per gram sehingga totalnya Rp5.000.000. Lalu ditambah biaya admin Rp10.000, jadi total seluruh modal awal Rp5.010.000.
Beberapa waktu kemudian, harga jual kembali (buyback) naik menjadi Rp1.120.000 per gram. Jika kamu ingin menjual semua emas, maka perhitungannya:
Hasil Penjualan = 5 gram x Rp1.120.000 = Rp5.600.000.
Keuntungan = Rp5.600.000 - Rp5.010.000 = Rp590.000.
Persentase = keuntungan / harga beli x 100 = Rp590.000 / Rp5.010.000 x 100 = 11,7%
Artinya, kamu mendapatkan keuntungan sebesar Rp590.000 atau sekitar 11,7% dari modal awal.
Pada akhirnya, pilihan antara reksa dana atau emas digital kembali pada tujuan dan kenyamanan kamu dalam berinvestasi.
Jika kamu ingin pertumbuhan yang lebih agresif, reksa dana bisa jadi pilihan. Namun, jika kamu lebih mengutamakan kestabilan dan ingin menjaga nilai aset dalam jangka panjang, emas tetap menjadi opsi yang menarik.
Menariknya, sekarang kamu tidak harus menunggu punya dana besar untuk mulai investasi emas. Kamu bisa memanfaatkan layanan Cicil Emas dari Pegadaian yang memungkinkan kamu memiliki emas secara bertahap dengan skema yang lebih ringan.
Melalui layanan ini, kamu bisa membeli emas 24 karat dan bersertifikat resmi dengan biaya terjangkau dan cicilan tetap setiap bulan meski harga emas naik.
Pengajuannya pun praktis, bisa dilakukan melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau dengan datang langsung ke kantor cabang Pegadaian terdekat. Jika masih ragu, kamu juga bisa mencoba Simulasi Cicil Emas untuk memperkirakan sesuai kemampuanmu.
Yuk, mulai rencanakan investasi kamu dari sekarang!
Baca juga: SBN Atau Emas, Mana Investasi yang Baik Untuk Jangka Panjang?
Artikel Lainnya

Emas
Mengenali Strategi Perdagangan Emas Beserta Risikonya
Sebelum memulai, pahami strategi perdagangan emas dan risiko menjalankan bisnis toko emas. Simak penjelasannya agar bisnismu berjalan lancar!

Emas
Buku Tabungan Emas Pegadaian Hilang? Ini Cara Mengurusnya!
Bagaimana jika buku Tabungan Emas hilang? Ketahui apa saja risiko, syarat, dan cara mengurusnya pada penjelasana lengkap di artikel ini!

Emas
Tabungan Emas untuk Dana Pensiun: Solusi Cerdas Hadapi Masa Tua
Emas dapat menjadi pilihan instrumen investasi yang tepat untuk dana pensiun Anda! Simak selengkapnya di sini.
