Quiet Quitting: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Dampaknya

Di tengah tuntutan kerja yang semakin tinggi, tidak sedikit karyawan mulai mempertanyakan batas antara profesionalisme dan pengorbanan berlebihan.
Ketika pekerjaan terus menuntut waktu, energi, dan emosi tanpa diimbangi penghargaan yang sepadan, muncul kecenderungan untuk menarik diri secara perlahan.
Dalam konteks inilah quiet quitting adalah fenomena yang semakin banyak dibicarakan, terutama karena berkaitan erat dengan upaya menjaga work life balance.
Fenomena ini bukan sekadar tren, tetapi mencerminkan perubahan cara pandang karyawan terhadap makna bekerja. Untuk memahami isu ini secara lebih utuh, simak pembahasan berikut hingga akhir.
Apa Itu Quiet Quitting?
Quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan tetap menjalankan pekerjaannya sesuai tanggung jawab formal, namun tidak lagi memberikan usaha tambahan di luar batas yang ditetapkan.
Karyawan tidak mengundurkan diri, tetapi juga tidak berupaya melampaui ekspektasi, seperti lembur berlebihan, mengambil tugas tambahan tanpa kompensasi, atau terlibat aktif di luar jam kerja.
Fenomena ini sering disalahartikan sebagai bentuk kemalasan. Padahal, quiet quitting lebih tepat dipahami sebagai sikap menarik batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Karyawan tetap profesional, menyelesaikan tugasnya dengan baik, tetapi menolak budaya kerja yang menuntut pengorbanan berlebihan tanpa kejelasan penghargaan.
Ciri-Ciri Quiet Quitting
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk mengenali tanda-tanda yang umumnya muncul ketika seseorang mulai melakukan quiet quitting. Ciri-ciri ini biasanya berkembang secara bertahap dan tidak selalu terlihat secara langsung. Berikut ini penjelasannya:
1. Bekerja Hanya Sesuai Tugas
Karyawan hanya mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawab utamanya dan tidak bersedia mengambil pekerjaan tambahan di luar peran tersebut.
2. Menghindari Lembur dan Pulang Tepat Waktu
Meskipun karyawan melakukan quiet quitting, jam kerja mereka tetap dijalani secara disiplin. Setelah jam kerja selesai, karyawan memilih berhenti bekerja dan menghindari lembur yang tidak bersifat mendesak.
3. Menjaga Jarak dari Urusan Kerja di Waktu Pribadi
Karyawan tidak merespons pesan, panggilan, atau permintaan kerja saat hari libur atau di luar jam kerja, kecuali dalam kondisi darurat.
4. Menurunnya Ambisi untuk Berprestasi
Dorongan untuk mengejar penghargaan, promosi, atau pengakuan di tempat kerja mulai berkurang secara signifikan.
5. Pasif dalam Rapat atau Diskusi
Partisipasi dalam rapat terbatas pada hal-hal yang wajib, tanpa inisiatif untuk menyampaikan ide atau masukan tambahan.
6. Minim Keterlibatan dalam Kegiatan Perusahaan
Karyawan jarang mengikuti acara internal perusahaan di luar kewajiban utama, seperti kegiatan kebersamaan atau program nonformal.
Baca juga: Produktif: Kenali Manfaat dan Cara Mengoptimalkannya
Penyebab Quiet Quitting
Setelah mengenali ciri-cirinya, langkah berikutnya adalah memahami faktor-faktor yang mendorong munculnya quiet quitting.
Perilaku ini umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari akumulasi berbagai pengalaman kerja yang dirasakan karyawan dalam jangka waktu tertentu. Adapun penyebabnya sebagai berikut:
1. Kelelahan dan Burnout
Tekanan kerja yang berlangsung terus-menerus tanpa disertai waktu pemulihan yang cukup dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental.
Target yang tidak realistis, tuntutan performa yang tinggi, serta ritme kerja yang terlalu cepat membuat karyawan kehilangan energi dan fokus.
Dalam kondisi burnout, karyawan cenderung tetap bekerja demi memenuhi kewajiban, tetapi tidak lagi memiliki motivasi untuk memberikan usaha lebih. Quiet quitting kemudian menjadi cara untuk bertahan tanpa harus mengorbankan kesehatan.
2. Kurangnya Apresiasi dan Pengakuan
Ketika upaya dan kontribusi yang diberikan tidak mendapatkan penghargaan yang sepadan, baik dalam bentuk finansial maupun nonfinansial, karyawan dapat merasa tidak dihargai.
Perasaan ini menimbulkan ketimpangan antara apa yang diberikan dan apa yang diterima. Akibatnya, karyawan memilih menyesuaikan tingkat usaha mereka agar sejalan dengan apresiasi yang diperoleh, yaitu dengan bekerja sebatas yang diwajibkan.
Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang mulai mencari bentuk apresiasi untuk dirinya sendiri, salah satunya dengan mengelola keuangan secara lebih terarah.
Menabung emas dapat menjadi cara sederhana untuk memberikan self-reward yang bersifat jangka panjang, apalagi kini kamu bisa memulainya dengan Rp10 ribuan saja melalui Tabungan Emas Pegadaian.
3. Beban Kerja Tidak Seimbang
Beban kerja yang berlebihan, terutama jika tidak diiringi dengan dukungan sumber daya atau kompensasi yang memadai, menjadi salah satu pemicu utama quiet quitting.
Karyawan yang terus-menerus diminta mengambil tanggung jawab tambahan tanpa kejelasan manfaat jangka panjang akan merasa dieksploitasi.
Dalam situasi ini, menarik batas kerja dianggap sebagai langkah rasional untuk menjaga keberlanjutan tenaga dan kinerja pribadi.
4. Batas Kerja dan Kehidupan Pribadi yang Tidak Jelas
Kebiasaan perusahaan atau atasan menghubungi karyawan di luar jam kerja, termasuk saat akhir pekan atau hari libur, dapat mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Jika kondisi ini terjadi secara berulang dan bukan karena situasi darurat, karyawan akan merasa waktu pribadinya tidak dihormati.
5. Minimnya Kesempatan Pengembangan Karier
Kurangnya peluang pengembangan diri, seperti pelatihan, promosi, atau peningkatan kompetensi, membuat karyawan merasa kariernya berjalan di tempat.
Ketika tidak melihat prospek pertumbuhan yang jelas, karyawan cenderung kehilangan motivasi untuk berkontribusi lebih. Dalam kondisi ini, bekerja secukupnya dianggap lebih masuk akal dibandingkan mengerahkan usaha ekstra tanpa kepastian arah karier.
6. Lingkungan Kerja dan Kepemimpinan yang Tidak Suportif
Lingkungan kerja yang tidak sehat, penuh tekanan, atau minim komunikasi terbuka dapat menurunkan keterlibatan karyawan.
Kepemimpinan yang otoriter, kurang empati, atau tidak responsif terhadap kebutuhan bawahan membuat karyawan merasa tidak didukung.
Alih-alih mengajukan pengunduran diri secara langsung, sebagian karyawan memilih tetap bertahan dengan menurunkan tingkat keterlibatan emosional dan profesional melalui quiet quitting.
Baca juga: Financial Distress: Penyebab, Indikator, dan Cara Mengukurnya
Dampak Quiet Quitting
Quiet quitting tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada organisasi secara keseluruhan. Berikut beberapa dampak yang dapat muncul apabila fenomena ini terjadi secara masif:
1. Penurunan Keterlibatan dan Kinerja Tim
Karyawan yang bekerja sebatas memenuhi kewajiban cenderung kurang terlibat dalam kerja sama tim dan enggan berkontribusi lebih. Hal ini membuat koordinasi menjadi kurang optimal dan memperlambat penyelesaian pekerjaan.
2. Berkurangnya Kreativitas dan Inovasi
Quiet quitting dapat menghambat munculnya ide-ide baru karena karyawan tidak lagi terdorong untuk berpikir kreatif atau menawarkan solusi alternatif.
Ketika keterlibatan emosional terhadap pekerjaan menurun, perusahaan berisiko kehilangan potensi inovasi dari sumber daya manusianya. Kondisi ini dapat membuat organisasi sulit berkembang dan bersaing di tengah perubahan pasar.
3. Produktivitas Tidak Optimal
Meskipun karyawan tetap hadir dan menjalankan tugasnya, kualitas serta kuantitas hasil kerja dapat menurun akibat rendahnya motivasi.
Pekerjaan diselesaikan sekadar untuk memenuhi standar minimum tanpa dorongan untuk meningkatkan performa. Jika dibiarkan, produktivitas perusahaan secara keseluruhan dapat terpengaruh.
4. Beban Kerja Tidak Merata
Ketika sebagian karyawan memilih bekerja secukupnya, beban kerja tambahan sering kali dialihkan kepada rekan kerja yang masih aktif dan berinisiatif. Ketimpangan ini dapat menimbulkan rasa tidak adil dan memicu ketegangan antaranggota tim.
5. Risiko Tingginya Turnover
Quiet quitting sering menjadi tahap awal sebelum karyawan benar-benar memutuskan untuk meninggalkan perusahaan.
Ketika rasa keterikatan dan kepuasan kerja terus menurun, keinginan untuk mencari peluang baru akan semakin besar. Akibatnya, tingkat retensi karyawan menurun dan perusahaan berisiko kehilangan talenta berpengalaman.
Demikian pembahasan tentang quiet quitting, mulai dari pengertian, ciri-ciri, penyebab, hingga dampaknya bagi karyawan dan perusahaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa semakin banyak individu yang berupaya menata ulang batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi demi menjaga work life balance dan kesehatan mental.
Dalam proses tersebut, karyawan cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan karier serta mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi keuangan.
Oleh karena itu, memiliki kesiapan finansial menjadi hal penting, apa pun pilihan karier yang kamu ambil ke depannya. Salah satu langkah yang dapat dipersiapkan sejak dini adalah menabung emas sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Emas dikenal sebagai instrumen yang relatif stabil dan mampu menjaga nilai aset sehingga dapat menjadi penopang finansial dalam berbagai fase kehidupan.
Untuk memulainya, kamu dapat memanfaatkan layanan Tabungan Emas Pegadaian yang memungkinkan menabung emas mulai dari Rp 10 ribuan tanpa perlu menyimpan emas fisik.
Sebab, emas disimpan dalam bentuk saldo yang dapat diakses pada aplikasi Tring! by Pegadaian. Kemudian, jika kamu membutuhkan dana tambahan kamu dapat menggadaikannya atau mencetaknya, lalu menjualnya dengan sistem buyback.
Jika tertarik, hitung terlebih dahulu estimasi tabungan sesuai tujuan keuangan menggunakan fitur Simulasi Tabungan Emas.
Yuk, buka rekening Tabungan Emas Pegadaian untuk mempersiapkan fondasi finansial yang lebih terencana!
Baca juga: Financial Freedom: Arti, Tahapan, dan Cara Mencapainya
Artikel Lainnya

Inspirasi
Batas Usia Pensiun di Indonesia dan Cara Mempersiapkannya!
Usia pensiun di Indonesia ditetapkan menjadi 59 Tahun pada 2025. Simak informasi selengkapnya di sini.

Inspirasi
30 Quotes Islami yang Memotivasi dan Dijadikan Renungan
Kata-kata yang memotivasi terkadang bisa memantapkan semangat hidup dan memberikan ketenangan. Berikut adalah sejumlah quotes Islami untuk sahabat!

Inspirasi
Mengenal Ruang Lingkup K3: Pengertian Hingga Fungsinya
Cari tahu pentingnya penerapan K3 dalam perusahaan. Apakah perusahaanmu sudah menerapkannya? Simak di sini.
