Dovish vs. Hawkish: Perbedaan dan Dampaknya bagi Investor

Arah pergerakan pasar keuangan sering kali berubah hanya karena satu hal, yaitu sikap bank sentral. Ketika regulator mengirimkan sinyal tertentu, baik yang bersifat menenangkan maupun mengerem laju ekonomi, sentimen pasar bisa berubah drastis.
Perubahan sentimen inilah yang biasanya berawal dari keputusan kebijakan moneter yang diumumkan secara berkala. Lewat keputusan tersebut, bank sentral memberikan petunjuk mengenai arah ekonomi ke depan.
Dalam konteks inilah muncul dua istilah yang paling sering digunakan untuk menggambarkan sikap kebijakan tersebut, yaitu dovish dan hawkish, yang masing-masing membawa dampak berbeda bagi pasar.
Bagi investor, memahami kedua istilah ini bukan sekadar menambah wawasan, tetapi menjadi kunci untuk menyesuaikan strategi di tengah dinamika ekonomi. Jika kamu ingin mengambil keputusan investasi dengan lebih terencana, simak artikel ini sampai akhir.
Mengenal Konsep Dovish dan Hawkish
Dalam kebijakan moneter, dovish adalah sikap bank sentral yang cenderung melonggarkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Biasanya, pendekatan ini dilakukan melalui penurunan suku bunga atau kebijakan lain yang menambah likuiditas.
Sebaliknya, hawkish adalah pendekatan yang lebih ketat dan fokus pada pengendalian inflasi. Bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk mengurangi tekanan harga agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Kedua istilah ini berasal dari karakteristik hewan yang merepresentasikannya, yaitu merpati (dovish) yang jinak dan cenderung “mengangkat” pasar, sedangkan elang (hawkish) menggambarkan tindakan tegas dan “menekan” aktivitas ekonomi.
Dovish vs. Hawkish: Apa Perbedaannya?
Perbedaan utama dovish dan hawkish terletak pada tujuan kebijakan, cara pelaksanaannya, serta dampaknya terhadap ekonomi. Berikut ini perbedaannya:
1. Tujuan Kebijakan
Dalam kebijakan hawkish, fokus utama bank sentral adalah menjaga inflasi tetap terkendali. Langkah-langkah yang diambil biasanya bertujuan menahan laju kenaikan harga agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Sebaliknya, kebijakan dovish lebih menitikberatkan pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank sentral cenderung memberikan stimulus untuk menurunkan tingkat pengangguran dan meningkatkan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
2. Arah Suku Bunga
Sikap hawkish biasanya ditandai dengan kecenderungan menaikkan suku bunga. Kenaikan ini membuat biaya pinjaman menjadi lebih tinggi sehingga aktivitas ekonomi dapat melambat.
Sementara itu, kebijakan dovish menunjukkan arah yang berlawanan. Bank sentral lebih memilih menurunkan suku bunga untuk mendorong konsumsi dan investasi, karena biaya pinjaman yang lebih rendah membuat pelaku ekonomi lebih aktif.
3. Dampak terhadap Mata Uang
Kebijakan hawkish umumnya membawa penguatan terhadap nilai mata uang. Suku bunga yang lebih tinggi menarik minat investor asing untuk menempatkan dana, sehingga permintaan terhadap mata uang meningkat.
Di sisi lain, kebijakan dovish dapat menyebabkan pelemahan mata uang. Hal ini terjadi karena peningkatan likuiditas dan turunnya suku bunga membuat mata uang tersebut menjadi kurang menarik bagi investor global.
4. Suasana Pasar
Ketika kebijakan hawkish diumumkan, pasar biasanya merespons dengan lebih hati-hati. Tingginya ketidakpastian dan potensi perlambatan ekonomi meningkatkan volatilitas.
Sebaliknya, kebijakan dovish cenderung menciptakan suasana pasar yang lebih positif. Stimulus moneter membuat investor lebih percaya diri sehingga pergerakan pasar menjadi relatif stabil dan cenderung optimistis.
Baca juga: Kebijakan Fiskal dan Moneter, Apa Saja Perbedaannya?
Apa Saja Dampak dari Dovish dan Hawkish dalam Investasi?
Perubahan sikap bank sentral tidak hanya memengaruhi arah kebijakan moneter, tetapi juga membawa dampak langsung pada berbagai instrumen investasi. Berikut penjelasan mengenai bagaimana sikap dovish dan hawkish memengaruhi masing-masing aset tersebut:
1. Pasar Saham
Dalam kondisi hawkish, kenaikan suku bunga membuat biaya pinjaman perusahaan meningkat.
Beban keuangan yang lebih besar ini biasanya menekan potensi laba, sehingga harga saham, terutama pada sektor yang bergantung pada pembiayaan, cenderung melemah.
Sebaliknya, ketika kebijakan bersifat dovish, suku bunga yang lebih rendah mendorong konsumsi dan aktivitas investasi. Perusahaan dapat berkembang dengan biaya modal yang lebih ringan, dan hal itu membuat pasar saham bergerak lebih positif.
2. Obligasi
Kebijakan hawkish umumnya menurunkan harga obligasi. Hal ini terjadi karena kenaikan suku bunga mendorong penerbitan obligasi baru dengan imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga obligasi lama menjadi kurang menarik.
Sementara itu, ketika kebijakan dovish diberlakukan, suku bunga yang turun membuat harga obligasi meningkat. Investor cenderung mencari obligasi yang menawarkan tingkat bunga lebih tinggi daripada instrumen baru, sehingga permintaan terhadap obligasi naik.
3. Mata Uang
Pada periode hawkish, nilai mata uang cenderung menguat. Suku bunga yang lebih tinggi menarik arus modal asing karena investor global mencari imbal hasil yang lebih menarik, sehingga permintaan terhadap mata uang tersebut meningkat.
Sebaliknya, saat kebijakan moneter bergerak ke arah dovish, nilai mata uang sering melemah. Penurunan suku bunga membuat mata uang menjadi kurang kompetitif di mata investor asing sehingga aliran modal masuk berkurang.
Baca juga: Mengenal FCA Saham, Cara Kerja, Kriteria, Hingga Periodenya
Bagaimana Cara Berinvestasi Saat Kebijakan Dovish dan Hawkish?
Dalam praktiknya, kebijakan dovish adalah sinyal untuk meningkatkan eksposur pada aset yang diuntungkan oleh suku bunga rendah. Sebaliknya, kebijakan hawkish menuntut strategi yang lebih defensif.
Untuk dapat berinvestasi di kedua kondisi tersebut, kamu bisa menggunakan startegi berikut ini:
Ketika Pasar Bersifat Hawkish:
- Kurangi porsi aset berisiko tinggi.
- Fokus pada sektor defensif seperti utilitas dan barang kebutuhan pokok.
- Pertimbangkan instrumen yang relatif stabil, seperti emas sebagai aset penyimpanan nilai yang dapat ditabung mulai dari Rp10 ribuan..
- Evaluasi portofolio untuk mengurangi risiko volatilitas.
Ketika Pasar Bersifat Dovish:
- Tingkatkan porsi saham pertumbuhan dan sektor siklikal.
- Manfaatkan momentum suku bunga rendah untuk aset jangka panjang.
Demikian pembahasan seputar dovish dan hawkish serta bagaimana kedua pendekatan kebijakan moneter ini memengaruhi pasar dan strategi investasimu.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa arah kebijakan bank sentral ikut menentukan kondisi likuiditas, risiko, dan sentimen pasar, tiga hal yang sangat berpengaruh terhadap keputusan investasi.
Memahami sinyal ini membantu kamu menjaga strategi tetap rasional, bukan reaktif, meskipun pasar sedang bergerak cepat.
Dalam praktiknya, banyak investor memilih untuk memiliki instrumen yang mudah dipantau dan tetap stabil di berbagai kondisi pasar.
Salah satunya adalah emas, yang secara historis digunakan sebagai aset penyimpan nilai ketika pasar sedang tidak menentu, baik di fase dovish maupun hawkish.
Apalagi jika tujuan investasimu bukan hanya untuk jangka pendek, tetapi juga untuk membangun fondasi keuangan jangka panjang. Di tahap ini, memiliki aset yang stabil menjadi bagian penting dari perencanaannya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Tabungan Emas Pegadaian menawarkan cara yang praktis karena memungkinkan kamu memiliki emas 24 karat mulai dari saldo sekitar Rp10 ribuan.
Kamu bisa membeli emas mulai dari 0,01 gram, lalu menambah saldo sesuai kemampuan. Emas yang kamu kumpulkan nantinya bisa dicetak menjadi emas batangan, ditukar dengan perhiasan, digadaikan sebagai jaminan, atau dijual kembali sesuai kebutuhan.
Pengelolaan tabungan emas juga jadi lebih mudah karena semua transaksi, mulai dari buka rekening, isi saldo, transfer saldo, hingga memantau harga jual-beli emas, dapat dilakukan langsung melalui aplikasi Tring! by Pegadaian.
Jadi, mari jaga kestabilan asetmu di tengah fluktuasi pasar dengan aktifkan rekening Tabungan Emas di Tring! by Pegadaian sekarang!
Baca juga: Emas vs Saham, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Profitable?
Artikel Lainnya

Investasi
Berbagai Kelebihan Pegadaian Digital untuk Tabungan Emas
Tak hanya uang, kamu juga bisa menabung emas di Pegadaian. Sebenarnya, apa saja keuntungan menabung emas? Simak ulasannya di sini.

Investasi
Strategi Keuangan untuk Usaha Kecil dan UKM
strategi keuangan menjadi faktor penting yang harus diperhatikan dalam upaya menjaga kestabilan dan mengembangkan usaha ke arah yang lebih baik

Investasi
Penyebab dan Dampak Rupiah Melemah Serta Strategi Menghadapinya
Ketahui dampak rupiah melemah terhadap ekonomi dan keuangan pribadi. Pelajari penyebab dan cara menghadapinya pada artikel ini!
