4 Penyebab Rupiah Melemah & Pilihan Investasi yang Cocok

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Investasi

25 May 2026
Bagikan :
image detail artikel

Nilai tukar rupiah yang terus melemah belakang ini membuat banyak orang mulai khawatir, apalagi ketika dolar AS tembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dampaknya pun terasa ke banyak hal, mulai dari harga barang impor yang baik, biaya ke luar negeri yang semakin mahal, hingga kekhawatiran terhadap kondisi investasi dan tabungan jangka panjang.

Di tengah situasi seperti ini, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas. Sebenarnya, apa penyebab rupiah melemah? Lantas, investasi seperti apa yang cocok dipilih saat kondisi ekonomi sedang tidak stabil?

Yuk, baca artikel ini hingga tuntas untuk mengetahui penyebabnya sekaligus mengenal beberapa instrumen investasi yang dinilai rendah risiko saat rupiah berada di bawah tekanan.

Faktor Penyebab Rupiah Melemah

Nilai rupiah sempat menembus angka Rp17.500 per dolar AS pada 12 Mei 2026. Hal ini dipengaruhi faktor eksternal yang cukup besar, terutama penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.

Tidak hanya di Indonesia, kondisi ini juga membuat mayoritas mata uang Asia ikut melemah terhadap dolar AS. Berikut ini beberapa faktor penyebabnya:

1. Ketidakpastian Konflik Timur Tengah

Konflik AS dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran pasar global. Selain isu gencatan senjata yang belum stabil, muncul juga pembahasan terkait kemungkinan operasi militer lanjutan dan pengamanan jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Gangguan di kawasan tersebut dapat memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Situasi ini mendorong investor beralih ke aset safe haven, seperti dolar AS. Akibatnya, indeks dolar AS (DXY) kembali menguat ke level 98,117 dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.

2. Ekspektasi Suku Bunga AS Tetap Tinggi

Kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik juga memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi Amerika Serikat.

Jika inflasi tetap tinggi, pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hingga saat ini, The Fed masih mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5%–3,75%.

Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor global sehingga arus modal ke negara berkembang menjadi lebih terbatas. Dampaknya, rupiah semakin sulit menguat kembali.

Baca juga: Memahami 6 Penyebab Rupiah Menguat, Contoh, & Dampaknya

3. Faktor Psikologis Pasar

Penyebab nilai rupiah melemah juga diperparah oleh faktor psikologis pasar setelah nilai tukar menembus level Rp17.500 per dolar AS.

Dalam pasar keuangan, level psikologis sering memengaruhi sentimen investor. Apalagi sebelumnya rupiah juga baru menembus Rp17.400 per dolar AS.

Tertembusnya dua level penting dalam waktu singkat memperkuat persepsi bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut sehingga permintaan dolar ikut meningkat.

4. Defisit Neraca Perdagangan

Defisit neraca perdagangan juga bisa menjadi salah satu penyebab rupiah melemah. Kondisi ini terjadi ketika nilai impor Indonesia lebih besar dibandingkan ekspornya.

Saat impor meningkat, kebutuhan dolar AS untuk membayar barang dari luar negeri ikut bertambah. Sementara itu, jika pemasukan dolar dari aktivitas ekspor tidak cukup besar, terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan dolar di dalam negeri.

Akibatnya, permintaan dolar menjadi lebih tinggi dibanding ketersediaannya sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ikut tertekan.

Baca juga: Cadangan Emas Bank Indonesia: Fakta, Fungsi, dan Jumlahnya

Jenis Investasi yang Cocok saat Rupiah Melemah

Saat nilai tukar rupiah melemah, banyak orang mulai mencari instrumen investasi yang dinilai lebih rendah risiko dan mampu menjaga nilai aset.

Beberapa jenis investasi yang sering dipilih karena dianggap lebih tahan terhadap gejolak nilai tukar rupiah antara lain:

1. Emas

Emas dikenal sebagai salah satu instrumen safe haven yang banyak diminati saat kondisi ekonomi sedang tidak stabil.

Investasi emas cukup populer karena nilainya cenderung lebih tahan terhadap inflasi dan pelemahan mata uang.

Ketika harga emas sedang terkoreksi, kondisi tersebut sering dimanfaatkan investor untuk membeli dan menyimpannya dalam jangka panjang.

Saat ini, investasi ini juga semakin mudah diakses karena tersedia berbagai platform digital dengan nominal pembelian yang terjangkau. Misalnya, layanan Tabungan Emas di Pegadaian melalui aplikasi Tring! by Pegadaian.

2. Tabungan Dolar

Tabungan dolar juga menjadi pilihan investasi yang cukup banyak digunakan ketika nilai rupiah melemah. Instrumen ini bekerja dengan memanfaatkan perubahan kurs mata uang asing terhadap rupiah.

Strateginya biasanya dilakukan dengan membeli dolar saat nilai rupiah masih kuat, lalu menyimpannya hingga kurs dolar naik. Ketika rupiah melemah, nilai simpanan dalam dolar pun ikut meningkat.

Jenis investasi ini cocok bagi investor yang memiliki kebutuhan dalam mata uang asing di masa depan, seperti biaya pendidikan, perjalanan luar negeri, atau transaksi internasional lainnya.

3. Obligasi Ritel Indonesia (ORI)

ORI merupakan surat utang negara yang ditawarkan kepada individu warga negara Indonesia. Instrumen ini cukup diminati karena memiliki risiko relatif rendah dan legalitas yang jelas dari pemerintah.

Selain menawarkan imbal hasil yang stabil, ORI juga cocok bagi investor yang ingin mencari instrumen investasi dengan tingkat keamanan lebih terukur saat kondisi ekonomi sedang bergejolak.

Di sisi lain, investasi ORI juga membantu pembiayaan pembangunan negara karena dana yang terhimpun digunakan untuk kebutuhan pemerintah.

Itulah penjelasan mengenai penyebab rupiah melemah dan beberapa jenis investasi yang dapat dipertimbangkan saat nilai tukar sedang berada di bawah tekanan.

Kondisi ini memang bisa memengaruhi banyak aspek keuangan, tetapi dengan strategi yang tepat, kamu tetap bisa menjaga nilai aset dan mempersiapkan keuangan jangka panjang dengan lebih baik.

Salah satu instrumen yang cukup banyak dipilih saat kondisi ekonomi tidak stabil saat ini adalah emas. Emas dinilai lebih tahan terhadap inflasi dan fluktuasi nilai tukar. Jika ingin mulai investasi emas, kamu bisa memanfaatkan layanan Tabungan Emas di Pegadaian.

Punya modal yang terbatas? Jangan khawatir. Melalui layanan ini, pembelian emas bisa dimulai dari Rp10 ribuan saja.

Transaksi juga dapat dilakukan secara fleksibel, baik melalui aplikasi Tring! by Pegadaian maupun datang langsung ke kantor cabang Pegadaian di kotamu.

Kalau masih ragu, kamu juga bisa memanfaatkan fitur Simulasi Tabungan Emas di website Pegadaian untuk memastikan nominal pembelian emas sesuai dengan rencana keuanganmu.

Dengan begitu, transaksi bisa lebih terencana dan terukur. Nantinya, saldo emas akan tersimpan dalam bentuk digital.

Namun, kamu juga bisa mencetak saldo tersebut menjadi emas batangan 24 karat sesuai kebutuhan.

Menarik, bukan? Yuk, mulai persiapkan investasi dari sekarang agar nilai aset kamu tetap terjaga meski kondisi ekonomi sedang berubah-ubah.

Baca juga: Apa itu IHSG? Kenali Definisi, Istilah, dan Cara Membacanya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Sahabat Pegadaian. All Rights Reserved