Price to Earning Ratio: Rumus dan Cara Menghitungnya

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Investasi

04 February 2026
Bagikan :
image detail artikel

Menilai saham tanpa melihat kinerja labanya ibarat membeli produk tanpa mengetahui kualitasnya. Oleh karena itu, price to earning ratio menjadi salah satu rasio investasi yang penting dalam analisis saham.

Rasio ini membantu kamu melihat hubungan antara harga saham dan laba perusahaan secara lebih objektif.

Agar kamu tidak keliru dalam membaca peluang investasi, simak pembahasan lengkap mengenai price to earning ratio berikut ini sampai akhir.

Apa Itu Price to Earning Ratio?

Price to earning ratio (PER) adalah rasio yang membandingkan harga saham dengan laba per saham (earnings per share/EPS). Rasio ini menunjukkan berapa kali lipat harga saham yang bersedia dibayar investor untuk setiap satu rupiah laba perusahaan.

Dengan kata lain, PER menggambarkan seberapa mahal atau murah suatu saham berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.

Semakin tinggi PER, semakin besar harapan pasar terhadap pertumbuhan laba perusahaan di masa depan. Sebaliknya, PER yang rendah bisa menandakan saham relatif murah atau pasar kurang optimis terhadap kinerjanya.

Price to earning ratio juga sering digunakan sebagai alat awal untuk menyaring saham sebelum dilakukan analisis fundamental yang lebih mendalam.

Kelebihan Price to Earning Ratio

Sebelum memahami kelebihannya, penting diketahui bahwa PER populer karena mampu memberikan gambaran valuasi saham secara cepat dan praktis.

Berikut beberapa kelebihan price to earning ratio:

  • Mudah Dipahami oleh Investor Pemula: Rumus PER sederhana sehingga mudah digunakan bahkan oleh investor yang baru mulai belajar saham.
  • Memudahkan Perbandingan Saham: PER memungkinkan kamu membandingkan valuasi beberapa saham dalam industri yang sama secara objektif.
  • Efektif untuk Screening Awal: PER sering dijadikan filter awal untuk menemukan saham yang berpotensi undervalued atau overvalued.
  • Mencerminkan Ekspektasi Pasar: Tingginya PER menunjukkan optimisme pasar, sedangkan PER rendah mencerminkan kehati-hatian investor.


Kekurangan Price to Earning Ratio

Meskipun bermanfaat, price to earning ratio tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar keputusan investasi. Berikut beberapa kekurangannya:

  • Tidak Berlaku untuk Perusahaan Rugi: Jika perusahaan mencatatkan kerugian, EPS menjadi negatif sehingga PER tidak dapat digunakan secara relevan.
  • Tidak Memperhitungkan Pertumbuhan: PER tidak menunjukkan seberapa cepat laba perusahaan dapat meningkat di masa depan.
  • Berbeda Antar Industri: PER saham teknologi wajar lebih tinggi dibanding sektor perbankan atau energi, sehingga tidak bisa dibandingkan lintas sektor.
  • Rentan terhadap Fluktuasi Laba: Fluktuasi laba dalam periode tertentu bisa menyebabkan PER terlihat tidak mencerminkan kinerja perusahaan secara menyeluruh.


Oleh karena itu, investor juga perlu mengombinasikan PER dengan indikator lain seperti Return on Equity (ROE) atau Price to Book Value (PBV) agar kerugian tetap terkendali.

Baca juga: Current Share Outstanding: Fungsi Hingga Faktor Pengubahnya

Jenis-Jenis Price to Earning Ratio

Sebelum menggunakan PER, kamu juga perlu memahami jenis-jenisnya agar interpretasinya tidak keliru. Di bawah ini penjelasan lengkapnya:

1. Trailing Twelve Months (TTM) PER

Trailing Twelve Months PER merupakan PER yang dihitung menggunakan EPS dari empat kuartal terakhir. Artinya, laba yang digunakan benar-benar berasal dari kinerja perusahaan yang sudah terjadi, bukan dari perkiraan.

Jenis PER ini sering dianggap lebih objektif karena bersumber dari laporan keuangan resmi yang telah dipublikasikan. Dengan TTM PER, kamu dapat menilai bagaimana pasar menghargai kinerja perusahaan berdasarkan laba historisnya.

Selain itu, TTM PER juga bermanfaat untuk melihat tren valuasi saham dari waktu ke waktu. Jika nilai TTM PER terus meningkat, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa harga saham semakin mahal dibandingkan kinerja labanya.

Sebaliknya, penurunan TTM PER dapat menunjukkan saham mulai berada pada valuasi yang lebih rendah.

TTM PER juga sering digunakan untuk menilai kondisi pasar secara umum, misalnya apakah indeks saham sedang berada pada level valuasi tinggi atau rendah dibandingkan periode sebelumnya.

2. Forward PER

Forward PER menggunakan EPS hasil proyeksi untuk periode mendatang, biasanya berdasarkan estimasi analis atau manajemen perusahaan. Dengan demikian, rasio ini lebih berorientasi pada potensi kinerja masa depan dibandingkan data historis.

Forward PER banyak digunakan oleh investor yang fokus pada pertumbuhan, karena rasio ini mencerminkan harapan pasar terhadap peningkatan laba perusahaan.

Jika proyeksi laba meningkat, maka Forward PER bisa terlihat lebih rendah meskipun harga saham tetap tinggi.

Namun, karena berbasis estimasi, Forward PER memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih besar. Jika proyeksi laba tidak tercapai, maka interpretasi rasio ini dapat menjadi kurang akurat.

Price to Earning Ratio Rumus dan Cara Menghitungnya

Rumus price to earning ratio adalah:

Price to Earning Ratio = Harga Saham ÷ Laba per Saham (EPS)
Harga saham diambil dari harga pasar, sedangkan EPS diperoleh dari laporan keuangan perusahaan.
Agar lebih mudah dipahami, perhatikan contoh berikut.

Misalnya, saham PT Maju Sejahtera diperdagangkan pada harga Rp3.600 per lembar. Perusahaan tersebut mencatatkan laba bersih Rp180 miliar dengan jumlah saham beredar sebanyak 900 juta lembar.

Langkah pertama, hitung EPS:
EPS = Rp180.000.000.000 ÷ 900.000.000
EPS = Rp200

Langkah kedua, hitung PER:
PER = Rp3.600 ÷ Rp200
PER = 18

Artinya, investor membayar Rp18 untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan perusahaan. Angka inilah yang kemudian digunakan untuk menilai apakah saham tersebut tergolong mahal atau masih wajar.

Baca juga: Apa itu IHSG? Kenali Definisi, Istilah, dan Cara Membacanya

Berapa Nilai Price to Earning Ratio yang Baik?

Pada dasarnya, tidak ada satu angka baku yang dapat dijadikan patokan mutlak untuk menentukan apakah price to earning ratio suatu saham tergolong baik atau buruk.

Hal ini karena setiap perusahaan memiliki karakteristik, tingkat pertumbuhan, serta risiko yang berbeda, begitu pula dengan sektor industrinya.

Oleh sebab itu, PER sebaiknya selalu dianalisis secara relatif, yaitu dengan membandingkannya terhadap PER historis perusahaan, PER perusahaan sejenis, serta rata-rata PER sektor atau pasar.

Meskipun demikian, terdapat beberapa acuan umum yang sering digunakan investor sebagai panduan awal dalam membaca PER.

1. PER di Bawah 15x: Sering Dianggap Menarik untuk Saham Undervalued

Bagi investor yang berfokus pada strategi value investing, saham dengan PER di bawah 15x sering dipandang memiliki valuasi yang relatif lebih murah. Angka ini menunjukkan bahwa harga saham belum terlalu jauh melampaui kemampuan laba perusahaan.

Namun, PER rendah tidak otomatis berarti saham tersebut layak dibeli. Kamu tetap perlu memastikan bahwa perusahaan memiliki kinerja keuangan yang sehat, prospek bisnis yang jelas, serta manajemen yang kompeten.

Tanpa analisis lanjutan, PER rendah justru bisa menjadi sinyal adanya masalah dalam perusahaan.

2. PER di Bawah 7x: Perlu Analisis Lebih Mendalam

PER yang sangat rendah dapat mengindikasikan dua kemungkinan. Pertama, saham tersebut memang sedang undervalued dan berpotensi memberikan keuntungan. Kedua, perusahaan sedang menghadapi tekanan kinerja atau masalah bisnis yang serius.

Untuk membedakan kedua kondisi tersebut, kamu perlu menelaah aspek fundamental lain, seperti arus kas, struktur utang, stabilitas laba, serta kondisi industri. Dengan demikian, keputusan investasi tidak hanya bertumpu pada PER semata.

3. PER Negatif: Sinyal Perusahaan Merugi

PER negatif menunjukkan bahwa perusahaan mencatatkan kerugian. Dalam kondisi ini, rasio PER sebenarnya sudah tidak relevan digunakan sebagai alat valuasi, karena laba per saham sebagai pembagi bernilai negatif.

Jika suatu saham memiliki PER negatif dalam jangka waktu panjang, kondisi tersebut dapat menjadi peringatan bahwa perusahaan kesulitan memperbaiki kinerjanya. Investor umumnya akan lebih berhati-hati terhadap saham dengan karakteristik seperti ini.

Itulah pembahasan mengenai price to earning ratio sebagai salah satu rasio investasi yang membantu kamu menilai apakah harga saham benar-benar sepadan dengan kinerja perusahaan.

Melalui PER, kamu belajar bahwa investasi tidak cukup dinilai dari harga, tetapi dari nilai dan prospek di baliknya. Prinsip ini mengajarkan investor untuk melihat potensi jangka panjang suatu aset, bukan sekadar pergerakan harga sesaat.

Pendekatan tersebut menjadi dasar penting dalam membangun portofolio investasi yang lebih seimbang melalui diversifikasi. Dengan tidak bergantung pada satu instrumen saja, risiko dapat dikelola dengan lebih bijak.

Dalam strategi diversifikasi, emas kerap dipilih karena karakteristik nilainya yang relatif stabil dalam jangka panjang. Namun, agar manfaatnya optimal, investasi emas juga perlu sarana yang praktis dan fleksibel agar strategi diversifikasi bisa dijalankan secara konsisten.

Melalui Tabungan Emas dari Pegadaian, kamu dapat menabung emas secara praktis dalam bentuk saldo digital yang dikelola secara profesional dan berizin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pembukaan rekening dapat dilakukan melalui aplikasi Tring! by Pegadaian maupun di kantor cabang terdekat, dengan pembelian awal mulai dari 0,01 gram dan biaya pengelolaan rekening sebesar Rp30.000 per tahun.

Saldo emas tersebut dapat dicetak menjadi emas fisik 24 karat atau dijual kembali di Galeri 24 sesuai kebutuhan.

Selain itu, dengan adanya fitur Simulasi Tabungan Emas, Pegadaian juga membantu kamu merencanakan pembelian emas secara lebih terukur dan terencana.

Jadi, jangan ragu untuk mulai menabung emas sekarang di Pegadaian sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjangmu.

Baca juga: Portofolio Investasi: Definisi, Tujuan, dan Cara Membuatnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Sahabat Pegadaian. All Rights Reserved