Market Cap: Definisi, Jenis, Cara Hitung, Hingga Contohnya

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Keuangan

08 January 2026
Bagikan :
image detail artikel

Market cap adalah metrik yang digunakan untuk mengukur total nilai pasar dari suatu perusahaan atau aset di pasar terbuka secara keseluruhan.

Bagi investor, indikator ini berperan krusial karena dapat membantu dalam menilai suatu perusahaan sebelum mengambil keputusan untuk membeli saham.

Artikel ini akan menguraikan lebih jauh mengenai jenis-jenis, hingga cara menghitungnya. Jadi, simak sampai akhir.

Apa Itu Market Cap?

Market cap adalah ukuran yang didasarkan pada nilai agregat pasar dari suatu bisnis perusahaan. Market cap ini dapat berubah dari waktu ke waktu atau dinamis.

Hal itu karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti outstanding shares (jumlah peredaran saham di pasar) dan harga jual per lembarnya.

Tidak bisa dipungkiri, situasi ini memicu nilai market cap terus naik turun yang juga menyesuaikan dengan pergerakan harga saham. Faktor lainnya, yaitu sentimen masyarakat.

Sebagai contoh, momen isu vaksinasi Covid-19 yang membuat nilai market cap berbagai perusahaan di sektor farmasi mengalami peningkatan secara signifikan.

Melalui market cap, kamu dapat menilai ukuran maupun stabilitas bisnis perusahaan di pasar saham dan merumuskan total pengeluaran untuk melakukan pembelian seluruh sahamnya.

Tidak hanya itu, market cap pun menjadi aspek krusial bagi analis keuangan untuk memahami kompetisi suatu perusahaan di industri tertentu.

Dengan kata lain bahwa semakin besar nilai market cap, maka tingkat popularitas dan potensi bisnis perusahaan tersebut dijadikan tujuan investasi akan semakin tinggi pula.

Jenis-Jenis Market Cap

Secara umum, market cap dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Adapun jenis-jenis market cap adalah sebagai berikut.

1. Large Cap

Large cap adalah perusahaan yang mempunyai nilai kapitalisasi pasar besar, yaitu melebihi angka $10 miliar atau lebih dari Rp150 triliun (kurs variatif).

Umumnya, perusahaan ini stabil, mapan, dan beroperasi di berbagai negara, seperti Google (Alphabet), Apple, Microsoft, atau BUMN besar.

Di samping itu, berfokus pada inovasi secara berkelanjutan, menjaga keunggulan kompetitif, serta mempertahankan posisi pasar global.

2. Mid Cap

Jenis-jenis market cap lainnya, yaitu mid cap. Perusahaan ini memiliki market cap antara $2 miliar sampai $10 miliar atau senilai Rp30 triliun hingga Rp150 triliun (kurs variatif).

Mid cap belum sebesar perusahaan large cap karena masih dalam tahap perkembangan. Meskipun demikian, potensi pertumbuhannya tergolong tinggi.

Strategi yang diterapkan biasanya dengan menguatkan branding, menjaga cash flow, serta melakukan diversifikasi produk untuk menopang ekspansi dalam jangka panjang.

3. Small Cap

Small cap merupakan perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar kurang dari $2 miliar atau di bawah Rp30 triliun (kurs variatif) dan memiliki risiko investasi cenderung lebih tinggi.

Hal itu karena fluktuasi harga saham perusahaan small cap pun lebih tinggi. Walaupun demikian, jenis market cap ini memberikan potensi pertumbuhan yang besar bagi investor.

Contoh market cap jenis ini, yaitu bisnis startup teknologi yang memfokuskan diri pada perluasan pasar, inovasi, serta manajemen risiko ketat demi mempertahankan kepercayaan investor.

Baca juga: Working Capital: Tujuan, Jenis, Hingga Cara Hitungnya

Mengapa Market Cap Penting?

Pada dasarnya, market cap memiliki peranan yang penting dalam strategi investasi. Adapun beberapa alasannya adalah sebagai berikut.

  • Menentukan Alokasi Portofolio: Saat besaran nilai kapitalisasi pasar diketahui, para investor dapat melakukan diversifikasi investasi, misalnya 50% di large cap, 30% di mid cap, dan 20% di small cap.
  • Indikator Sentimen Pasar: Banyaknya investor yang masuk ke saham small cap akan membuat market cap-nya meningkat. Ini dapat menunjukkan tren spekulasi atau sentimen yang positif.
  • Menyusun Strategi Jangka Panjang: Biasanya, investor jangka panjang cenderung lebih nyaman di large cap karena stabil. Sementara itu, trader agresif lebih menyukai small cap.
  • Hubungan dengan Likuiditas: Perusahaan bernilai kapitalisasi besar sering kali dikenal dengan sebutan saham blue chip. Saham ini memiliki likuiditas tinggi, stabil, dan relatif lebih aman dalam jangka panjang.
  • Membandingkan Perusahaan: Market cap memungkinkan untuk melakukan perbandingan antarperusahaan di sektor yang sama menurut ukuran dan bukan hanya harga saham. Misalnya, membandingkan BBRI vs BBCA untuk menilai siapa yang lebih besar di sektor perbankan.
  • Mengukur Risiko dan Keuntungan: Perusahaan dengan market cap kecil mempunyai peluang pertumbuhan, tetapi cukup berisiko. Sedangkan, large cap cenderung lebih stabil.

Skala Perusahaan dalam Market Cap di Indonesia

Saat hendak menanamkan modal, kinerja serta kualitas perusahaan menjadi pertimbangan penting yang perlu diperhatikan.

Di Indonesia, ada kebijakan tersendiri yang diterapkan oleh pasar modal terkait skala market cap perusahaan. Bursa Efek Indonesia (BEI) membaginya menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. First Liner (Blue Chip)

Saham dari perusahaan first liner dikenal sebagai saham blue chip. Saham ini memiliki nilai kapitalisasi pasar besar (large cap) sebesar Rp10 triliun atau di atasnya.

Profil risiko jenis perusahaan ini umumnya lebih konservatif sehingga banyak dipilih para investor. Pembagian dividen kepada para investornya pun diketahui stabil dan rutin.

Perusahaan first liner diproyeksikan mempunyai fundamental kuat dan potensi laba yang besar. Terdapat beberapa contoh perusahaan yang termasuk kategori ini.

Perlu dipahami bahwa kategori ini lebih mengarah pada panduan dan listing, bukan pengelompokan hukum mutlak seperti Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) yang mengatur jenis saham, hak suara, atau lainnya.

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
  • PT Astra International Tbk (ASII).
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
  • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

2. Second Liner

Perusahaan di kategori ini termasuk mid cap dengan nilai kapitalisasi pasar antara Rp1-Rp10 triliun. Fundamentalnya termasuk kuat sehingga layak menjadi pertimbangan investasi.

Pergerakan perusahaan second liner tergolong cukup agresif meskipun sedang berkembang. Salah satu contoh saham perusahaan second liner, yaitu BBKP milik PT Bank Bukopin Tbk.

3. Third Liner

Third liner merupakan perusahaan dengan market cap kecil (small cap). Harga saham di perusahaan kategori ini tergolong lebih terjangkau daripada first atau second liner.

Apabila berminat pada saham di perusahaan ini, maka para investor perlu berhati-hati karena lebih mudah dimainkan oleh bandar dan dikenal sebagai saham gorengan.

Oleh karena itu, tetap dilakukan analisis mendalam dan menyeluruh sebelum memutuskan untuk mengambil langkah investasi. Contohnya, yaitu FIRE dari Alfa Energi.

Baca juga: GDP: Komponen, Tujuan, Jenis, Fungsi, & Perhitungannya

Cara Menghitung Market Cap

Perhitungan terhadap market cap dapat dilakukan menggunakan rumus tertentu, yaitu sebagai berikut.

Market Cap = Harga Saham Perusahaan x Jumlah Saham Beredar

Agar pemahaman menjadi semakin jelas, perhatikan contoh dan cara menghitung market cap di bawah ini.

PT KLM mempunyai saham sebesar 200 juta lembar dengan harga per lembar sahamnya, yaitu Rp2.500,-. Berapakah market cap-nya?

Jawab:

Market Cap = Harga Saham Perusahaan x Jumlah Saham Beredar
= Rp2.500,- x 200.000.000
= Rp500.000.000.000,-.

Disclaimer: Investasi saham secara umum mengandung risiko dan perlu diingat bahwa seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Pegadaian membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber tepercaya serta tidak dipengaruhi oleh pihak mana pun. Informasi ini juga bukan ajakan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Pegadaian tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Secara garis besar, market cap adalah ukuran yang mencerminkan valuasi pasar saat ini. Pemahaman terkait hal ini bisa membantu investor menavigasi lautan investasi yang penuh gejolak.

Sebagai investor yang cerdas, sebaiknya jangan hanya terpaku pada nilai kapitalisasi pasar. Kamu pun perlu mempertimbangkan tentang jaminan stabilitas finansial di masa depan.

Oleh karena itu, sebaiknya seimbangkan risiko dengan aset yang lebih stabil dan konservatif, seperti emas. Investasi emas bisa diwujudkan melalui Tabungan Emas dari Pegadaian.

Layanan ini menawarkan jaminan emas 24 karat dengan pembelian awal minimal Rp10 ribuan dan biaya pengelolaan rekening ringan, yaitu sebesar Rp30.000/tahun.

Nantinya, saldo yang terkumpul dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan, mulai dari digadaikan, dijual kembali, dikonversi menjadi emas fisik, hingga dikirim ke sesama pengguna.

Jika ingin mengetahui berapa gram emas yang memungkinkan untuk dibeli, cobalah hitung perkiraannya menggunakan fitur Simulasi Tabungan Emas.

Yuk, mulai menabung emas sekarang lewat aplikasi Tring! by Pegadaian atau langsung ke kantor cabang Pegadaian terdekat!

Baca juga: Mengenal FCA Saham, Cara Kerja, Kriteria, Hingga Periodenya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Sahabat Pegadaian. All Rights Reserved