Mengenal Krisis Ekonomi, Penyebab, Dampak, Contoh, & Solusi

Oleh Sahabat Pegadaian dalam Keuangan

16 February 2026
Bagikan :
image detail artikel

Krisis ekonomi adalah situasi ketika ekonomi suatu negara atau wilayah mengalami penurunan secara drastis sehingga menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

Peristiwa ini bisa dikatakan sebagai titik balik mendadak yang melibatkan gangguan atau kekacauan signifikan dalam sistem ekonomi maupun keuangan.

Krisis ekonomi menjadi salah satu hal berat yang dirasakan oleh masyarakat karena menghantam langsung sendi-sendi perekonomian sekaligus kesejahteraan.

Lantas, apa penyebab dan solusi krisis ekonomi yang dapat dilakukan? Untuk selengkapnya, mari simak pembahasan di artikel ini.

Apa Itu Krisis Ekonomi?

Krisis ekonomi adalah periode saat suatu negara atau wilayah mengalami penurunan yang sangat signifikan, serius, dan berkelanjutan dalam aktivitas ekonomi.

Kondisi ini kerap kali berdampak luas pada berbagai sektor. Biasanya, ditandai dengan penurunan tajam pada beberapa indikator kunci, antara lain:

  • Nilai aset.
  • Nilai tukar mata uang.
  • PDB (Produk Domestik Bruto).
  • Kemampuan belanja pemerintah.
  • Kekurangan likuiditas di lembaga keuangan.
  • Kesulitan untuk memenuhi pembayaran utang oleh bisnis maupun konsumen.
  • Penurunan konsumsi karena harga bahan pokok melonjak drastis.


Fenomena ini sangat mengerikan karena merugikan banyak pihak. Dalam jangka panjang, negara berpotensi mengalami kejatuhan di bidang penegakan hukum serta ketertiban.

Pasalnya, masyarakat yang terdampak krisis ekonomi mulai resah dan kehilangan kepercayaannya terhadap pemerintah maupun sistem keuangan sehingga memicu ketidakstabilan ekonomi, politik, serta kekacauan sosial.

Dalam konteks finansial, berisiko terjadi penarikan dana besar-besaran dari bank serta aktivitas penjualan aset dengan cepat sebagai respon atas kekhawatiran akan penyusutan nilai lebih lanjut.

Penyebab Krisis Ekonomi

Penyebab krisis ekonomi di suatu negara sangat beragam, seperti fluktuasi nilai tukar, krisis keuangan di negara lain, hingga pengetatan kebijakan moneter global.

Di samping itu, terdapat beberapa hal lainnya yang dapat memunculkan kondisi tersebut, antara lain:

1. Laju Inflasi Tinggi

Salah satu penyebab krisis ekonomi, yaitu laju inflasi yang tinggi. Pada situasi ini, harga barang maupun jasa mengalami lonjakan dalam waktu yang panjang.

Pada dasarnya, inflasi tidak selalu negatif karena bergantung pada tingkat persentasenya. Namun, apabila terjadi berkelanjutan dan lajunya tinggi, maka perlu diwaspadai.

Sebab, bisa membuat pemerintah kehilangan kontrol atas kenaikan harga dan penurunan tajam nilai uang sehingga mengarah pada hiperinflasi. Perekonomian pun semakin memburuk.

2. Pasar Saham Jatuh

Jatuhnya pasar saham dipicu karena investor telah kehilangan kepercayaan di pasar sehingga harga saham pun anjlok secara dramatis. Ini menciptakan efek domino, seperti:

  • Hilangnya kekayaan investor yang menurunkan konsumsi.
  • Menyulitkan entitas memperoleh modal.
  • Memicu ketidakpastian yang menghentikan ekspansi bisnis.


Keadaan tersebut sering kali diikuti oleh pelemahan nilai tukar mata uang, kepanikan perbankan, hingga penurunan daya beli masyarakat.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi melambat secara tajam yang mendorong terjadinya krisis ekonomi di suatu negara/wilayah.

3. Stagflasi

Umumnya, situasi ini dirasakan oleh suatu negara ketika telah mengalami tingkat inflasi tinggi dan perekonomiannya tumbuh secara lambat.

Alhasil, pembuat kebijakan dilema dalam mengambil langkah. Pasalnya, kebijakan yang bertujuan menekan laju inflasi berpotensi meningkatkan angka pengangguran.

Ini justru bisa menambah permasalahan baru, baik secara hukum, sosial, maupun ekonomi. Terlebih, pengaruh stagflasi dapat berlangsung dalam jangka panjang hingga sekian dekade.

4. Utang Negara Berlebihan

Krisis perekonomian juga dapat disebabkan oleh utang negara yang berlebihan. Beban pembayaran pokok dan bunga pinjaman yang terlalu tinggi akan menguras APBN.

Dana untuk sektor produktif, seperti pendidikan dan infrastruktur pun berkurang. Akibatnya, meningkatkan risiko default (gagal bayar).

Melihat keadaan ini, investor cenderung skeptis. Akibatnya, memicu pelarian modal serta inflasi apabila didanai dengan cara mencetak uang.

5. Kondisi Geopolitik Tidak Stabil

Politik yang tidak stabil (perang, konflik, dan perubahan kebijakan negara), baik di dalam negeri maupun tingkat global menyebabkan kegiatan ekonomi terganggu.

Ini menciptakan ketidakpastian pasar yang akhirnya berimbas pada arus perdagangan internasional, investasi, hingga nilai tukar mata uang. Gejolak ekonomi pun terjadi.

Baca juga: Pengaruh Inflasi Terhadap Investasi yang Perlu Diketahui

Dampak Krisis Ekonomi

Krisis perekonomian mendatangkan efek yang substansial bagi seluruh pihak di dalam suatu negara. Adapun beberapa dampak krisis ekonomi adalah sebagai berikut.

1. Bisnis Jatuh

Di tengah krisis ekonomi, permintaan barang dan jasa akan terus menurun. Hal ini mengganggu kontinuitas operasional bisnis. Bahkan, dapat mengakibatkan produksi terhenti.

2. Pendapatan Masyarakat Menurun

Hal ini bisa terjadi akibat adanya rasionalisasi dan efisiensi biaya operasional bisnis sehingga pemasukan rumah tangga pun berkurang.

3. Tingkat Pengangguran Tinggi

Krisis ekonomi yang mengarah ke resesi membuat daya beli masyarakat lemah. Akibatnya, omzet perusahaan turun sehingga produksi terhambat dan memicu PHK massal. Tingkat pengangguran pun melonjak.

4. Kemiskinan dan Ketimpangan Meningkat

Seiring dengan naiknya angka pengangguran, tingkat kemiskinan pun meninggi sehingga ketimpangan sosial semakin terlihat karena yang mampu bertahan di tengah krisis tidak banyak.

5. Daya Beli Masyarakat Lemah

Selama krisis, harga kebutuhan primer terus naik. Namun, di saat yang sama penghasilan justru stagnan bahkan berkurang. Akibatnya, kebutuhan harian sulit dipenuhi dan konsumsi rumah tangga akhirnya menurun.

6. Belanja Negara Tidak Terpenuhi

Krisis ekonomi membuat pemerintah sulit memenuhi kebutuhan belanja negara yang akhirnya menghambat pembangunan negara. Ini berdampak pada masyarakat luas.

7. Krisis Sosial

Tingginya kemiskinan dalam jangka panjang selama terjadinya krisis ekonomi berpotensi menimbulkan krisis sosial di tengah masyarakat naik. Akibatnya, meningkatkan kasus kriminal dan memperburuk kondisi lingkungan masyarakat.

Contoh Krisis Ekonomi di Indonesia

Krisis ekonomi pernah terjadi di Indonesia selama beberapa kali. Dampaknya tentu sangat signifikan. Berikut ini contoh krisis ekonomi di Indonesia.

1. Krisis Moneter 1997-1998

Krisis ekonomi di Indonesia ini termasuk yang paling parah. Pemicunya, yaitu lemahnya sistem keuangan serta kebijakan nilai tukar yang tidak berkesinambungan.

Krisis moneter pada akhir tahun 90-an ini menyebabkan banyak bank dan perusahaan runtuh, inflasi meningkat, angka pengangguran tinggi, serta devaluasi mata uang tajam.

Krisis ini juga menciptakan perubahan yang besar dalam perpolitikan di Indonesia, yaitu berakhirnya sistem pemerintahan Presiden Soeharto.

2. Krisis Keuangan Global 2008

Contoh krisis ekonomi ini cukup berdampak signifikan bagi Indonesia yang membuat investasi asing dan ekspor menurun serta terjadi volatilitas di pasar saham.

Bentuk respons yang dilakukan Pemerintah Indonesia, yakni dengan menerapkan berbagai kebijakan untuk mendorong pertumbuhan sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi.

3. Pandemi COVID-19

Ketika pandemi COVID-19 terjadi, aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang tajam karena adanya pembatasan pergerakan sehingga permintaan global menurun.

Sejumlah bisnis juga terancam tutup. Demi meminimalkan dampak ekonomi dari pandemi, Pemerintah Indonesia mengambil langkah, seperti stimulus fiskal serta dukungan bagi pekerja maupun bisnis.

Baca juga: Prinsip Ekonomi: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Cara Menghadapi Krisis Ekonomi di Indonesia

Pada dasarnya, solusi krisis ekonomi melibatkan peran pemerintah melalui kebijakannya. Umumnya, fokus pemerintah terletak pada beberapa hal, yakni:

  • Reformasi regulasi.
  • Pembangunan infrastruktur.
  • Diversifikasi ekspor.
  • Pemberlakukan kebijakan fiskal maupun moneter.


Selain pemerintah, individu juga perlu merencanakan cara menghadapi krisis ekonomi di Indonesia dari sisi finansialnya. Ini penting sebagai bentuk antisipasi kemungkinan terjadi krisis ekonomi yang selanjutnya, seperti:

  • Membangun dana darurat.
  • Melunasi utang berbunga tinggi.
  • Melakukan penghematan dan efisiensi dengan berfokus pada kebutuhan pokok.
  • Mencari sumber pendapatan sampingan untuk menambah pemasukan dan memaksimalkan passive income.
  • Mendiversifikasi aset untuk memitigasi risiko.
  • Memeriksa cakupan asuransi yang dimiliki untuk memastikan bahwa telah sesuai kebutuhan.
  • Menyiapkan persediaan bahan pangan untuk menghadapi risiko kelangkaan dan harga yang sangat mahal.


Krisis ekonomi mungkin datang silih berganti. Oleh karena itu, perlu dikelola dengan baik demi melindungi apa yang paling berharga untuk masa mendatang.

Dalam hal ini, termasuk kebutuhan akan keamanan finansial. Alih-alih berdiam diri, mulailah mengambil langkah proaktif dengan mengalihkan portofolio ke instrumen emas.

Mengapa demikian? Sebab, aset ini memiliki nilai yang stabil, bahkan cenderung meningkat dari waktu ke waktu walaupun di tengah ketidakpastian ekonomi.

Investasi emas bisa dilakukan dengan membuka rekening Tabungan Emas melalui aplikasi Tring! by Pegadaian atau langsung ke kantor cabang Pegadaian terdekat.

Kamu dapat melakukan pembelian awal minimal 0,01 gram dan membayar biaya pengelolaan rekening sebesar Rp30.000 saja per tahun.

Bagi kamu yang ingin menyimpan emas fisik sendiri, maka ajukan pencetakan saldo emas digital menjadi emas batangan 24 karat atau perhiasan.

Simpanan saldo tersebut pun bisa dijadikan sebagai agunan maupun dijual kembali apabila sedang membutuhkan dana tambahan mendesak.

Untuk melihat perkiraan besaran gramasi emas yang hendak dibeli, cobalah hitung menggunakan Simulasi Tabungan Emas.

Yuk, ubah risiko krisis ekonomi menjadi peluang kemakmuran di masa depan dengan menabung emas sekarang di Pegadaian!

Baca juga: Cara Menghitung Laju Inflasi Beserta Rumusnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email kamu tidak akan terlihat oleh pengunjung lain.
Komentar *
Nama*
Email*
logo

PT Pegadaian

Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ikuti Media Sosial Kami

Pegadaian Call Center

1500 569

atau 021-80635162 & 021-8581162


Copyright © 2026 Sahabat Pegadaian. All Rights Reserved